Hari Anak Nasional di Sulteng, Kampanyekan Cukup Gizi Anak dan Balita

 - 
Hari Anak Nasional di Sulteng, Kampanyekan Cukup Gizi Anak dan Balita
Hari Anak Nasional di Sulteng, Kampanyekan Cukup Gizi Anak dan Balita

Hari Anak Nasional di Sulteng, Kampanyekan Cukup Gizi Anak dan Balita

Hari Anak Nasional di Sulteng, Kampanyekan Cukup Gizi Anak dan Balita

Hari Anak Nasional di Sulteng, Kampanyekan Cukup Gizi Anak dan Balita

Sekitar 500 anak memeriahkan rangkaian acara Hari Anak Nasional (HAN)

2019 di Sigi, Sulawesi Tengah. Mengangkat tema ‘Kualitas keluarga Penopang Perlindungan Anak’ kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Sigi bekerjasama dengan Wahana Visi Indonesia dan Bank HSBC itu ingin memunculkan kepedulian semua pihak untuk mewujudkan lingkungan yang berkualitas bagi anak termasuk lingkungan yang sehat dan akses terhadap fasilitas kesehatan yang mudah pasca bencana alam gempa bumi, tsunami dan likuifaksi pada 28 September 2018 silam.

Dengan penuh keceriaan, 500-an anak mengikuti rangkaian kegiatan Peringatan Hari Anak Nasional yang digelar di lapangan desa Tulo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Kamis (18/7). Ada yang mengikuti lomba menghias celengan, lomba cerdas cermat dan lomba baca puisi.

Untuk sesaat anak-anak yang beberapa di antaranya masih tinggal di lokasi-lokasi pengungsian di Sigi, Sulawesi Tengah itu bersaing dalam kegiatan lomba yang di warnai canda tawa mereka.

Diswita Zahrani yang baru menginjak usia 15 tahun, kepada VOA mengatakan kegiatan itu cukup menyenangkan karena bertemu dengan banyak anak-anak lainnya yang datang dari sekolah lainnya di wilayah itu. Bagi pelajar kelas 1 SMK Sidera tersebut, harapan terbesar bagi dirinya agar pemerintah bisa segera memperbaiki kondisi sekolah mereka yang kini rusak akibat bencana alam.

“Kita sekolahnya tinggal di Huntara terus pagarnya

juga tidak ada jadi kita harap sekolah kita kembali seperti dulu lagi, ketat seperti dulu, adanya seperti dulu, terus jalan ke sekolah juga di perbaiki karena jalannya buat kita kita sakit badan, jadi kita pergi pulang sekolahnya tidak enak badan sudah, apalagi kalau ada air hujan, jadi kita harus lewat sungai menyebarang lagi,” keluh Diswita.
Para pelajar tingkat Sekolah Dasar ikut lomba menghias celengan dalam rangkaian kegiatan Hari Anak Nasional di Sigi, Sulawesi Tengah, 18 Juli 2019. (Foto: VOA / Yoanes Litha)
Para pelajar tingkat Sekolah Dasar ikut lomba menghias celengan dalam rangkaian kegiatan Hari Anak Nasional di Sigi, Sulawesi Tengah, 18 Juli 2019. (Foto: VOA / Yoanes Litha)

Diswita adalah satu dari banyak anak-anak yang kini tinggal di Hunian Sementara (Huntara) bersama keluarga mereka dalam bilik yang berukuran 6 x 6 meter. Ia menceritakan tinggal di Huntara membuat ia tidak merasa bebas seperti tinggal di rumah sendiri seperti sebelum bencana alam, dimana kini segala sesuatu yang dilakukan di dalam huntara sebisa mungkin tanpa mengganggu keluarga lain yang hanya dibatasi dinding yang terbuat dari kalsiboard.

“Kondisi Huntara-nya …Alhamdulillah bagus. Hanya kita tidak enakkan

, kalau misalkan kita ribut atau mau lakukan sesuatu seperti yang di rumah biasa. Kita tidak enakkan dengan yang di samping, jadi tidak bisa kita bebas. Terus ruangannya juga kecil, terbatas, jadi kita pasang lemarinya cuma berapa, tempat tidurnya cuma berapa terus WC-nya juga jauh,” tambah Diswita lagi.

Diswita berharap dalam peringatan Hari Anak Nasional tahun 2019 ini, kondisi anak-anak terdampak bencana alam di Sulawesi Tengah akan mendapatkan perhatian lebih dari Pemerintah dan berbagai pihak lainnya setidaknya dengan segera memperbaiki sekolah-sekolah mereka yang mengalami kerusakan, serta percepatan pembangun Hunian Tetap.

 

Baca Juga :


Mobil Nasional: Riset Kampus Melesat, Produksi Mobil Esemka Tersendat

 - 
Mobil Nasional Riset Kampus Melesat, Produksi Mobil Esemka Tersendat
Mobil Nasional Riset Kampus Melesat, Produksi Mobil Esemka Tersendat

Mobil Nasional: Riset Kampus Melesat, Produksi Mobil Esemka Tersendat

Mobil Nasional Riset Kampus Melesat, Produksi Mobil Esemka Tersendat

Mobil Nasional Riset Kampus Melesat, Produksi Mobil Esemka Tersendat

Sebuah perguruan tinggi mengucurkan anggaran miliaran rupiah untuk riset mobil buatannya.
SOLO, JAWA TENGAH —

Dua mobil prototipe karya mahasiswa Universitas Sebelas Maret UNS Solo

yang tergabung dalam Tim Bengawan akan bersaing di kompetisi mobil tingkat Asia di Singapura, awal bulan depan. Dua mobil ini dikemudikan dua mahasiswa fakultas Teknik, mengelilingi kompleks gedung Rektorat kampus milik pemerintah ini, awal pekan ini. Mereka akan berkompetisi dengan para mahasiswa dari berbagai negara di dunia untuk kategori mobil paling hemat bahan bakar.

Salah seorang anggota tim perancang mobil tersebut, Aulia Madjid, mengatakan mobil rancangan timnya ini membutuhkan 1 liter Bahan Bakar untuk jarak tempuh 300 kilometer.
Mobil rakitan ESEMKA produksi siswa SMK Solo, Jawa Tengah (Foto: dok).
Mobil rakitan ESEMKA produksi siswa SMK Solo, Jawa Tengah (Foto: dok).

“Mobil prototipe kami ini dengan bahan bakar setara satu liter bisa mencapai jarak sejauh 250-300 kilometer. Nanti di kejuaraan Asia di Singapura, Maret mendatang, ada 21 negara dengan tim mencapai 30-an. Jika dapat juara 1,2, atau 3 di kompetisi itu, akan memiliki tiket menuju kejuaraan dunia mobil irit bahan bakar di London, pertengahan tahun ini,” kata Aulia Madjid.

Perguruan tinggi di Indonesia terus mengembangkan teknologi mobil listrik, mobil irit BBM, dan berbagai inovasi lainnya. Rektor Universitas Sebelas Maret UNS Solo, Profesor Ravik Karsidi mengungkapkan anggaran pengembangan mobil buatan kampus ini sekitar 3 hingga 4 Miliar rupiah per tahun.

Baca juga: Dukung Industri Mobil Nasional, Pemerintah Targetkan Kurangi Pengangguran Terdidik

Menurut Ravik yang pernah menjadi ketua Forum Rektor Indonesia, kampus sebagai pusat riset teknologi tak menampik kemungkinan perguruan tinggi mengembangkan sistem teaching factory atau pabrik produksi mobil.

“ini namanya dana riset mahasiswa, didampingi para dosen ahli

, mereka akan berkompetisi ke luar negeri, besok Singapura maupun London, kita siapkan dana Global Challenge Youth sekitar tiga miliar rupiah lebih. Ini kan juga sesuai arahan Kementerian riset, teknologi, dan pendidikan tinggi yang mendukung Universitas atau perguruan tinggi melakukan riset dan pengembangan teknologi mobil inovatif, rekayasa teknologi seperti ini. Ke depan memang harus dikaitkan antara Universitas dengan dunia usaha. Tugas perguruan tinggi kan riset teknologi, kalau memang layak diterapkan ya kerjasama dengan pengusaha untuk pengadaan kebutuhannya. Kami berharap UNS Solo ini memiliki teaching factory, kita punya pabrik sendiri produksi mobil rancangan tim ini. Kita gunakan dulu untuk kebutuhan transportasi kampus,” kata mantan ketua forum rektor UNS, Prof.Ravik.

Data Korlantas Mabes Polri pada tahun 2016 menunjukkan jumlah kendaraan di Tanah Air mencapai 128,3 juta unit. Angka itu mencakup mobil penumpang, bus, mobil barang, kendaraan khusus, dan sepeda motor. Produk Eropa, Amerika, Jepang, Korea dan China membanjiri pasar otomotif di Indonesia.

Baca juga: Kantongi Ijin Pemerintah, Mobil Rakitan ESEMKA Mulai Dipasarkan di Solo

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menargetkan Indonesia dapat memproduksi mobil listrik sendiri pada 2020 mendatang. UNS Solo menjadi salah satu kampus yang menjadi proyek contoh pengembangan mobil listrik, selain Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya.

Anggaran besar terus dikucurkan untuk pengembangan mobil buatan kampus, namun kondisi sebaliknya terjadi disekolah menengah kejuruan. Salah satu SMK perakit mobil esemka di Solo berharap bisa dilibatkan kembali dalam produksi mobil esemka yang terhenti sejak tahun 2013 lalu. Juru bicara SMK, warga di Solo, Heru Raharjo, beberapa pekan lalu mengatakan produksi mobil esemka tipe Rajawali yang lolos uji produksi sebetulnya sempat diminati dan dibeli.

 

Sumber :

https://www.viki.com/users/danuaji88/about


Jokowi Lakukan Kunjungan Nostalgia ke Almamaternya Fakultas Kehutanan UGM

 - 
Jokowi Lakukan Kunjungan Nostalgia ke Almamaternya Fakultas Kehutanan UGM
Jokowi Lakukan Kunjungan Nostalgia ke Almamaternya Fakultas Kehutanan UGM

Jokowi Lakukan Kunjungan Nostalgia ke Almamaternya Fakultas Kehutanan UGM

Jokowi Lakukan Kunjungan Nostalgia ke Almamaternya Fakultas Kehutanan UGM

Jokowi Lakukan Kunjungan Nostalgia ke Almamaternya Fakultas Kehutanan UGM

Presiden Joko Widodo hari Selasa (19/12/17) melakukan kunjungan nostalgia

ke almamaternya Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada UGM dan bertemu dosen dan teman-teman semasa kuliah. Tetapi dalam kesempatan itu presiden justru menyampaikan rasa kecewa terhadap pengelolaan hutan di Indonesia.
YOGYAKARTA —

Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan nostalgia di almamaternya Fakultas Kehutanan UGM Selasa siang (19/12/17) usai memberikan kuliah umum pada peringatan Dies Natalis ke-68 UGM.

Mengidentifikasi dirinya 37 tahun lalu sebagai mahasiswa berambut gondrong dan mengenakan celana panjang model cut-bray yang populer waktu itu, presiden mengatakan ia pernah bercita-cita menjadi pegawai Perhutani dan mengajukan lamaran tetapi gagal.

Dalam kunjungan nostalgia itu, Jokowi bertemu dengan dosen pembimbing skripsinya Kasmujo (68 tahun) serta teman-teman kuliah satu angkatan tahun 1980, lalu melihat pameran foto-foto lama ketika ia mahasiswa dan aktif pada komunitas pendaki gunung, dan menanam pohon Cendana (Santalun Album).
Presiden Jokowi menanam pohon Cendana (Santalun Album) di Fakultas Kehutanan UGM, disaksikan dari kiri Menteri Ristek DIkti Prof. Mohamad Nasir, Mensesneg Prof Pratikno, Gubernur DIY Sultan Hamengkubuwono X, Ibu Negara dan paling kanan Rektor UGM Prof.Pan
Presiden Jokowi menanam pohon Cendana (Santalun Album) di Fakultas Kehutanan UGM, disaksikan dari kiri Menteri Ristek DIkti Prof. Mohamad Nasir, Mensesneg Prof Pratikno, Gubernur DIY Sultan Hamengkubuwono X, Ibu Negara dan paling kanan Rektor UGM Prof.Pan

Tetapi, ketika berbicara di forum nostalgia itu, Jokowi justru menyatakan kecewa

terhadap pengelolaan hutan di Indonesia. Biaya besar untuk menanam pohon yang digelontorkan ke kementerian Kehutanan belum kunjung menghasilkan hutan.

“Di Kementerian Kehutanan sudah puluhan triliun biaya dikeluarkan, tunjukkan kepada saya hutan yang sudah jadi, tidak ada. Kalau tidak kita bangun hutan-hutan, nanti hutan konservasi digerogoti terus, lama-lama hilang hutannya. Kita ini bisa tetapi tidak mau melakukan. Kita memiliki lahan yang sangat subur tetapi terlalu banyak lahan yang kita terlantarkan dan tidak kita urus. Urusan ini akan saya kejar terus. Mulai saat ini, uang tu harus jadi pohon hidup, hutan dan harus bisa memakmurkan rakyat,” tegas Jokowi.

Presiden Jokowi juga membandingkan peran sektor kehutanan di Indonesia

dengan Norwegia, yang ia sebut telah berkontribusi besar bagi pendapatan per-kapita negara tersebut. Indonesia menurutnya harus bisa memperoleh pemasukan negara yang lebih besar dari sektor kehutanan.
Presiden Jokowi (tengah) berfoto bersama teman-teman kuliah satu angkatan tahun 1980 dalam pertemuan nostalgia di Fakultas Kehutanan UGM, Selasa (19/12). (Foto VOA/Munarsih)

Kasmujo, mantan dosen pembimbinng skripsi Jokowi yang kini mengajar tentang kehutanan di Sekolah Vokasi UGM menilai wajar jika presiden kecewa dengan pengelolaan hutan di Indonesia.

“Ini masa transisi (pengelolaan hutan), perlu waktu untuk pas dengan visi dan misi kehutanan yang sebenarnya. Kalau pak Jokowi komentar seperti itu wajar karena masa transisi setelah semuanya masuk BUMN tentu ada gap, tetapi di beberapa tempat menunjukkan perubahan yang bagus,” ujar Kasmujo.

 

Sumber :

https://worldcosplay.net/member/799880


Marhaen Dan Proletar (Oleh: Ir. Soekarno)

 - 
Marhaen Dan Proletar (Oleh: Ir. Soekarno)
Marhaen Dan Proletar (Oleh: Ir. Soekarno)

Marhaen Dan Proletar (Oleh: Ir. Soekarno)

Marhaen Dan Proletar (Oleh: Ir. Soekarno)

Marhaen Dan Proletar (Oleh: Ir. Soekarno)

Di dalam konferensi di kota Mataram baru-baru ini

Partindo telah mengambil putusan tentang Marhaen dan Marhaenisme, yang poin-poinnya antara lain sebagai berikut:

1. Marhaenisme, yaitu Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi.
2. Marhaen yaitu kaum Proletar Indonesia, kaum Tani Indonesia yang melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain.
3. Partindo memakai perkataan Marhaen, dan tidak proletar, oleh karena perkataan proletar sudah termaktub di dalam perkataan Marhaen, dan oleh karena perkataan proletar itu bisa juga diartikan bahwa kaum tani dan lain-lain kaum yang melarat tidak termaktub di dalamnya.
4. Karena Partindo berkeyakinan, bahwa di dalam perjuangan, kaum melarat Indonesia lain-lain itu yang harus menjadi elemen-elemennya (bagian-bagiannya), maka Partindo memakai perkataan Marhaen itu.
5. Di dalam perjuangan Marhaen itu maka Partindo berkeyakinan bahwa kaum Proletar mengambil bagian yang besar sekali.
6. Marhaenisme adalah azas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan negeri yang di dalam segala halnya menyelamatkan Marhaen.
7. Marhaenisme adalah pula cara perjuangan untuk mencapai susunan masyarakat dan susunan negeri yang demikian itu, yang oleh karenanya, harus suatu cara perjuangan yang revolusioner.
8. Jadi Marhaenisme adalah : cara perjuangan dan azas yang menghendaki hilangnya tiap-tiap kapitalisme dan imperialisme.
9. Marhaenis adalah tiap-tiap orang bangsa Indonesia, yang menjalankan Marhaenisme.
* * *

Sembilan kalimat dari putusan ini sebenarnya sudah

cukup terang menerangkan apa artinya Marhaen dan Marhaenisme. Memang perkataan-perkataannya di sengaja perkataan-perkataan yang populer, sehingga siapa saja yang membacanya, dengan segera mengerti apa maksud-maksudnya. Namun, -ada satu kalimat yang sangat sekali perlu diterangkan lebih luas, karena memang ssangat sekali pentingnya. Kalimat itu ialah kalimat yang kelima. Ia berbunyi: “Di dalam perjuangan Marhaen itu, maka Partindo berkeyakinan, bahwa kaum Proletar mengambil bagian yang besar sekali.”

 

Satu kalimat ini saja sudahlah membuktikan

bahwa cara perjuanngan yang dimaksudkan ialah cara perjuangan yang tidak ngelamun, cara perjuangan yang dimaksudkan ialah cara perjuangan yang “menurut kenyataan”, -cara perjuangan yang modern. Sebab, apa yang dikatakan di situ? Yang dikatakan disitu ialah, bahwa didalam perjuangan Marhaen, kaum Proletar mengambil bagian yang besar sekali.

 

Ya, disini dibikin perbedaan paham yang tajam sekali antara Marhaen dan Proletar.

Memang di dalam kalimat nomor 2, nomor 3 dan nomor 4 daripada putusan itu adalah diterangkan perbedaan paham itu: bahwa Marhaen bukanlah kaum Proletar (kaum buruh) saja, tetapi ialah kaum Proletar dan kaum Tani melarat Indonesia yang lain-lain, -misalnya kaum dagang kecil, kaum ngarit, kaum tukang kaleng, kaum grobag, kaum nelayan, dan kaum lain-lain. Dan kemodernannya dan kerasionilannya kalimat nomor 5 itu ialah, bahwa di dalam perjuanngan bersama daripada kaum Proletar dan kaum Tani dan kaum melarat lain-lain itu, kaum Proletarlah mengambil bagian yang besar sekali: Marhaen seumumnya sama berjuang, Marhaen seumumnya sama merebut hidup, Marhaen seumumnya sama berikhtiar mendatangkan masyarakat yang menyelamatkan Marhaen seumumnya pula –namun kaum Proletar yang mengambil bagian yang besar sekali.

Ini, paham ”Proletar mengambil bagian yang besar sekali”-, inilah yang saya sebutkan modern, inilah yang bernama rasional. Sebab kaum Proletarlah yang kini lebih hidup di dalam ideologi modern, kaum Proletarlah yang sebagai klasse lebih langsung terkenal oleh kapitalisme, kaum Proletarlah yang lebih “mengerti” akan segala-galanya kemodernan Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi. Mereka lebih “selaras dengan jaman”, mereka lebih “nyata pemikirannya,” mereka lebih “konkret”, dan…Mereka lebih besar harga perlawanannya, lebih besar gevechtswaarde-nya dari kaum yang lain-lain. Kaum tani adalah umumnya masih hidup dengan satu kaki di dalam ideologi feodalisme, hidup di dalam angan-angan mistik yang melayang-layang diatas awang-awang, tidak begitu “selaras jaman” dan “nyata pikiran” sebagai kaum Proletar yang hidup di dalam kegemparan percampur gaulan abad keduapuluh. Mereka masih banyak mengagung-agungkan ningratisme, percaya pada seorang “Ratu Adil” atau “Heru Cokro” yang nanti akan terjelma dari kalangan membawa kenikmatan surga dunia yang penuh dengan rezeki dan keadailan, ngandel akan “kekuatan-kekuatan rahasia” yang bisa “memujakan” datangnya pergaulan hidup baru dengan termenung di dalam gua.

Mereka di dalam segala-galanya masih terbelakang, masih “kolot”, masih “kuno”. Mereka memang sepantasnya begitu: mereka punya pergaulan hidup adalah pergaulan hidup “kuno”. Mereka punya cara produksi adalah cara produksi dari jaman Medang Kamulan dan Majapahit, mereka punya beluku adalah belukunya Kawulo seribu lima ratus tahun yang lalu, mereka punya garu adalah sama tuanya dengan nama garu sendiri, mereka punya cara menanam padi, cara hidup, pertukar-tukaran hasil, pembahagian tanah, pendek seluruh kehidupan sosial ekonominya adalah masih berwarna kuno, -mereka punya ideologi pasti berwarna kuno pula!

Sebaliknya kaum Proletar sebagai klas adalah hasil langsung daripada kapitalisme dan imperialisme. Mereka adalah kenal akan pabrik, kenal akan mesin, kenal akan listrik, kenal akan cara produksi kapitalisme, kenal akan kemodernannya abad keduapuluh. Mereka ada pula lebih langsung menggenggam mati hidupnya kapitalisme di dalam mereka punya tangan, lebih direct (langsung, ed.) mempunyai gevechtswaarde anti kapitalisme. Oleh karena itu, adalah rasionil jika mereka yang di dalam perjuangan anti kapitalisme dan imperialisme itu berjalan di muka, jika mereka yang menjadi pandu, jika mereka yang menjadi “voorlooper”, -jika mereka yang menjadi “pelopor”. Memang! Sejak adanya soal “Agrarfrage” alias “soal kaum tani”, sejak adanya soal ikutnya si tani di dalam perjuangan melawan stelsel (sistem, ed.) kapitalisme yang juga tak sedikit menyengsarakan si tani itu, maka Marx sudah berkata bahwa di dalam perjuangan tani dan buruh ini, kaum buruh lah yang harus menjadi “revolutionaire voorhode” alias “barisan muka yang revolusioner”: kaum tani harus dijadikan kawannya kaum buruh, dipersatukan dan dirukunkan dengan kaum buruh, dibela dalam perjuangan anti kapitalisme agar jangan nanti menjadi begundalnya kaum kapitalisme itu, -tetapi di dalam perjuangan bersama ini kaum buruhlah yang “menjadi pemanggul panji-panji Revolusi Sosial”. Sebab, memang merekalah yang, menurut Marx, sebagai klasse ada suatu “social noodwendigheid” (suatu keharusan dalam sejarah, ed.), dan memang kemeangan ideologi merkalah yang nanti ada suatu “historische noodwendigheid”, -suatu keharusan riwayat, suatu kemustian di dalam riwayat.

Welnu, jikalau benar ajaran Marx ini, maka benar pula kalimat nomor 5 daripada sembilan kalimat diatas tadi, yang mengatakan bahwa di dalam perjuangan Marhaen, kaum Buruh mempunyai bagian yang besar sekali.

Tetapi orang bisa membantah bahwa keadaan di Eropa tak sama dengan keadaan di Indonesia? Bahwa disana kapitalisme terutama sekali kapitalisme kepabrikan, sedang disini ia adalah terutama sekali kapitalisme pertanian? Bahwa disana kapitalisme bersifat zulvere industrie, sedang disini ia buat 75% bersifat onderneming (perkebunan, ed.) karet, “onderneming” teh, onderneming tembakau, onderneming karet, onderneming kina, dan lain sebagainya? Bahwa disana hasil kapitalisme itu ialah terutama sekali kaum Proletar 100%, sedang disini ia terutama sekali ia menghasilkan kaum tani melarat yang papa dan sengsara? Bahwa disana memang benar mati hidup kapitalisme itu ada di dalam genggaman kaum Proletar, tetapi di sini ia buat sebagian besaar ada di dalam genggaman kaum tani? Bahwa dus sepantasnya disana kaum Proletar yang menjadi “pembawa panji-panji,” tetapi disini belum tentu harus begitu juga?

Ya,… benar kapitalisme disini adalah 75% industril kapitalisme pertanian, benar mati hidupnya kapitalisme disini itu buat sebagian besar ada di dalam genggamannya kaum tani, tetapi hal ini tidak merubah kebenaran pendirian, bahwa kaum buruhlah yang harus menjadi “pembawa panji-panji”. Lihatlah sebagai tamzil sepak teryangnya suatu tentara militer: yang menghancurkan tentaranya musuh adalah tenaga daripada seluruh tentara itu, tetapi toh ada satu barisan daripadanya yang ditaruh dimuka, berjalan dimuka, berkelahi mati-matian dimuka, -mempengaruhi dan menjalankan kenekatan dan keberaniannya seluruh tentara itu: barisan ini adalah barisannya barisan pelopor. Nah, tentara kita adalah benar tentaranya Marhaen, tentaranya klas Marhaen, tentara yang banyak mengambil tenaganya kaum tani, tetapi barisan pelopor kita adalah barisannya kaum buruh, barisannya kaum Proletar.

Oleh karena itu, pergerakan kaum Marhaen tidak akan menang, jika tidak sebagai bagian daripada pergerakan Marhaen itu diadakan barisan “buruh dan sekerja” yang kokoh dan berani. Camkanlah ajaran ini, kerjakanlah ajaran ini! Bangunkanlah barisan “buruh dan sekerja” itu, bangkitkanlah semangat dan keinsyafan, susunkanlah semua tenaganya! Pergerakan politik Marhaen umum adalah perlu, -tetapi sarekat buruh dan sekerja adalah juga perlu, amat perlu, teramat perlu, maha perlu dengan tiada hingganya!

Baca Juga : 


Mampir Di Masyumi

 - 
Mampir Di Masyumi
Mampir Di Masyumi

Mampir Di Masyumi

Mampir Di Masyumi

Mampir Di Masyumi

MASYUMI lahir pada 7 Agustus 1945

ketika Jepang mulai sibuk bertahan dalam Perang Pasifik. Dalam bukunya Bulan Sabit dan Matahari Terbit, Harry J. Benda melihat: Jepang merestui pendirian organisasi Islam itu dengan harapan kekuatan Islam membantu dalam perang. Padahal para pendiri Masyumi-Kiai Haji Wachid Hasyim, Mohammad Natsir, Kartosoewirjo, dan lainnya-menghendaki organisasi ini dapat menghadirkan semangat Islam dalam perang kemerdekaan.

Waktu itu Kartosoewirjo bukan pendatang baru. Sebelum terpilih sebagai Komisaris Jawa Barat merangkap Sekretaris I Masyumi, ia sudah aktif dalam Majelis Islam ‘Alaa Indonesia (MIAI), salah satu organisasi cikal bakal Masyumi. Bersama kawan-kawannya, atas izin Aseha-residen Jepang di Bandung-ia mendirikan cabang MIAI di lima kabupaten di Priangan.

 

Kartosoewirjo cukup dekat dengan Jepang.

Dalam Soeara MIAI, ia menulis betapa ajaran Islam akan berkembang bila umatnya ikut membangun dunia baru bersama “keluarga Asia Timur Raya.”

Beberapa tahun setelah Proklamasi, dalam Pedoman Dharma Bhakti ia menjelaskan strategi kerja sama ini terbukti efektif. “Masyumi dan MIAI, keduanya buatan Jepang, dengan perantaraan agen para kiai ala Tokyo, sebenarnya kamp konsentrasi. Namun akhirnya menjadi pendorong dan daya kekuatan yang hebat (dalam pergerakan Indonesia),” tulisnya.

Atas usul Kartosoewirjo pula, Wachid Hasyim, Natsir, dan anggota lainnya, pada 7 November 1945 di Yogyakarta, menyatakan Masyumi sebagai partai politik. Kartosoewirjo tetap menjabat sekretaris pertama. Programnya menciptakan negara hukum berdasarkan ajaran agama Islam. Kartosoewirjo juga diberi tugas mendirikan pusat Masyumi di daerah Priangan.

 

Tujuh bulan setelah itu, pada Juni 1946

Masyumi daerah Priangan mengadakan konferensi pemilihan pengurus baru di Garut. Kartosoewirjo menunjuk Kiai Haji Mochtar sebagai ketua umum dan ia sendiri sebagai wakilnya. Nama tokoh politik Islam setempat, seperti Isa Anshari, Sanusi Partawidjaja, KH Toha, dan Kamran, masuk kepengurusan. Dalam pidatonya, Kartosoewirjo meminta pengikutnya memahami ajaran Islam yang hanif, menjaga persatuan, dan menghentikan konflik karena perbedaan ideologi.

“Karena konflik sesama bangsa Indonesia hanya akan menguntungkan Belanda,” katanya. Ia mematangkan partai yang diharapkan menjadi wahana organisasi bagi semua kelompok Islam, sambil mempersiapkan tentaranya sendiri, laskar Hizbullah dan Sabilillah di Priangan.

Semua menyaksikan Kartosoewirjo merupakan sosok berpengaruh dan keras hati. Sikap kerasnya pada persetujuan Renville mendorong Perdana Menteri Amir Sjarifuddin meminta Kartosoewirjo menjabat Menteri Pertahanan. Tapi dia menolak, karena masih merasa terikat dengan Masyumi dan tak menyukai arah politik Amir yang condong ke kiri.

Sebelumnya, dalam sidang Komite Nasional Indonesia Pusat di Malang, Jawa Timur, Februari-Maret 1947, Kartosoewirjo yang mewakili Masyumi menegaskan menolak persetujuan Linggarjati. Sebab, kesepakatan itu menguntungkan Belanda, yang nyata-nyata ingin kembali menjajah Indonesia. Penolakan itu menimbulkan konflik, Kartosoewirjo diancam gerilyawan sayap kiri, Pesindo. Bung Tomo meminta Kartosoewirjo mencegah pasukan Hizbullah menembaki kelompok Pesindo.

Melihat persetujuan Linggarjati dilanjutkan dengan agresi militer Belanda, Kartosoewirjo memfokuskan perjuangan bersenjatanya dengan basis Islam. Dalam pertemuan di Cisayong, ia dan kawan-kawan membekukan Masyumi dan semua cabangnya di Jawa Barat. Kartosoewirjo membentuk Majelis Umat Islam. Masyumi tidak mendukung, walaupun tidak ikut menghantam.

Ketika Masyumi memegang pemerintahan, Natsir mengirimkan surat yang mengajaknya turun gunung, kembali berjuang dalam batas-batas hukum negara yang ada. Namun Kartosoewirjo membalas surat Natsir dengan pahit, “Barangkali saudara belum menerima proklamasi (Darul Islam) kami.”

Sumber : https://www.okeynotes.com/blogs/212521/21234/cara-memilih-jam-tangan-pria-yang-bagus-dan-berkualitas


Sejarah Singkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

 - 

Sejarah Singkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Sejarah Singkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Sejarah Singkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

 

Daerah Istimewa Yogyakarta atau biasa disingkat dengan DIY adalah

salah satu daerah otonom setingkat provinsi yang ada di Indonesia. Propinsi ini beribukota di Yogyakarta.

Dari nama daerah ini yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus statusnya sebagai Daerah Istimewa. Status sebagai Daerah Istimewa berkenaan dengan runutan sejarah berdirinya propinsi ini, baik sebelum maupun sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

 

Menurut Babad Gianti, Yogyakarta atau Ngayogyakarta

(bahasa Jawa) adalah nama yang diberikan Paku Buwono II (raja Mataram tahun 1719-1727) sebagai pengganti nama pesanggrahan Gartitawati. Yogyakarta berarti Yogya yang kerta, Yogya yang makmur, sedangkan Ngayogyakarta Hadiningrat berarti Yogya yang makmur dan yang paling utama. Sumber lain mengatakan, nama Yogyakarta diambil dari nama (ibu) kota Sanskrit Ayodhya dalam epos Ramayana. Dalam penggunaannya sehari-hari, Yogyakarta lazim diucapkan Jogja(karta) atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa).

 

Sebelum Indonesia merdeka, Yogyakarta sudah mempunyai

tradisi pemerintahan karena Yogyakarta adalah Kasultanan, termasuk di dalamnya terdapat juga Kadipaten Pakualaman. Daerah yang mempunyai asal-usul dengan pemerintahannya sendiri, di jaman penjajahan Hindia Belanda disebut Zelfbesturende Landschappen. Di jaman kemerdekaan disebut dengan nama Daerah Swapraja.

Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri sejak 1755 didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Kadipaten Pakualaman, berdiri sejak 1813, didirikan oleh Pangeran Notokusumo, (saudara Sultan Hamengku Buwono II ) kemudian bergelar Adipati Paku Alam I.

 

Baik Kasultanan maupun Pakualaman,

diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangga sendiri. Semua itu dinyatakan di dalam kontrak politik. Terakhir kontrak politik Kasultanan tercantum dalam Staatsblad 1941 No. 47 dan kontrak politik Pakualaman dalam Staatsblaad 1941 No. 577.

Pada saat Proklamasi Kemerdekaan RI, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII mengetok kawat kepada Presiden RI, menyatakan bahwa Daerah Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman menjadi bagian wilayah Negara Republik Indonesia, serta bergabung menjadi satu mewujudkan satu kesatuan Daerah Istimewa Yogyakarta. Sri sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab langsung

 

kepada Presiden Republik Indonesia. Pegangan hukumnya adalah :

1. Piagam kedudukan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 19 Agustus 1945 dari Presiden Republik Indonesia.
2. Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Amanat Sri Paku Alam VIII tertanggal 5 September 1945 ( yang dibuat sendiri-sendiri secara terpisah).
3. Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 30 Oktober 1945 ( yang dibuat bersama dalam satu naskah ).

Dari 4 Januari 1946 hingga 17 Desember 1949, Yogyakarta menjadi Ibukota Negara Republik Indonesia, justru dimasa perjuangan bahkan mengalami saat-saat yang sangat mendebarkan, hampir-hampir saja Negara Republik Indonesia tamat riwayatnya. Oleh karena itu pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia yang berkumpul dan berjuang di Yogyakarta mempunyai kenangan tersendiri tentang wilayah ini. Apalagi pemuda-pemudanya yang setelah perang selesai, melanjutkan studinya di Universitas Gajah Mada, sebuah Universitas Negeri yang pertama didirikan oleh Presiden Republik Indonesia, sekaligus menjadi monumen hidup untuk memperingati perjuangan Yogyakarta.

Pada saat ini Kraton Yogyakarta dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Puro Pakualaman oleh Sri Paduka Paku Alam IX. Keduanya memainkan peranan yang sangat menentukan di dalam memelihara nilai-nilai budaya dan adat-istiadat Jawa dan merupakan pemersatu masyarakat Yogyakarta.

Dengan dasar pasal 18 Undang-undang 1945, Dewan Perwakilan Rakyat Propisni Daerah Istimewa Yogyakarta menghendaki agar kedudukan sebagai Daerah Istimewa untuk Daerah Tingkat I, tetap lestari dengan mengingat sejarah pembentukan dan perkembangan Pemerintahan Daerahnya yang sepatutnya dihormati.

Pasal 18 undang-undang dasar 1945 itu menyatakan bahwa “ pembagian Daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang dengan memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam sistem Pemerintahan Negara dan hak-hak asal-usul dalam Daerah-daerah yang bersifat Istimewa “.

Sebagai Daerah Otonom setingkat Propinsi, Daerah Istimewa Yogyakarta dibentuk dengan Undang-undang No.3 tahun 1950, sesuai dengan maksud pasal 18 UUD 1945 tersebut. Disebutkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta adalah meliputi bekas Daerah/Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman.

Sebagai ibukota Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kota Yogyakarta kaya predikat, baik berasal dari sejarah maupun potensi yang ada, seperti sebagai kota perjuangan, kota kebudayaan, kota pelajar, dan kota pariwisata.

Sebutan kota perjuangan untuk kota ini berkenaan dengan peran Yogyakarta dalam konstelasi perjuangan bangsa Indonesia pada jaman kolonial Belanda, jaman penjajahan Jepang, maupun pada jaman perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Yogyakarta pernah menjadi pusat kerajaan, baik Kerajaan Mataram (Islam), Kesultanan Yogyakarta maupun Kadipaten Pakualaman.

Sebutan kota kebudayaan untuk kota ini berkaitan erat dengan peninggalan-peninggalan budaya bernilai tinggi semasa kerajaan-kerajaan tersebut yang sampai kini masih tetap lestari. Sebutan ini juga berkaitan dengan banyaknya pusat-pusat seni dan budaya. Sebutan kata Mataram yang banyak digunakan sekarang ini, tidak lain adalah sebuah kebanggaan atas kejayaan Kerajaan Mataram.

Predikat sebagai kota pelajar berkaitan dengan sejarah dan peran kota ini dalam dunia pendidikan di Indonesia. Di samping adanya berbagai pendidikan di setiap jenjang pendidikan tersedia di propinsi ini, di Yogyakarta terdapat banyak mahasiswa dan pelajar dari seluruh daerah di Indonesia. Tidak berlebihan bila Yogyakarta disebut sebagai miniatur Indonesia.

Sebutan Yogyakarta sebagai kota pariwisata menggambarkan potensi propinsi ini dalam kacamata kepariwisataan. Yogyakarta adalah daerah tujuan wisata terbesar kedua setelah Bali. Berbagai jenis obyek wisata dikembangkan di wilayah ini, seperti wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, wisata pendidikan, bahkan, yang terbaru, wisata malam.

Disamping predikat-predikat di atas, sejarah dan status Yogyakarta merupakan hal menarik untuk disimak. Nama daerahnya memakai sebutan DIY sekaligus statusnya sebagai Daerah Istimewa. Status Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa berkenaan dengan runutan sejarah Yogyakarta, baik sebelum maupun sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sumber : https://www.okeynotes.com/blogs/212521/21233/fungsi-sitoplasma


DPR Nilai Pernyataan Praktisi Pendidikan Setyono Bisa Menyulut Polemik

 - 
DPR Nilai Pernyataan Praktisi Pendidikan Setyono Bisa Menyulut Polemik
DPR Nilai Pernyataan Praktisi Pendidikan Setyono Bisa Menyulut Polemik

DPR Nilai Pernyataan Praktisi Pendidikan Setyono Bisa Menyulut Polemik

DPR Nilai Pernyataan Praktisi Pendidikan Setyono Bisa Menyulut Polemik

DPR Nilai Pernyataan Praktisi Pendidikan Setyono Bisa Menyulut Polemik

DPR menyayangkan pernyataan praktisi pendidikan Setyono Djuandi Darmono

yang menyebut pendidikan agama di sekolah menjadi pemicu politisasi agama.

DPR menyayangkan pernyataan praktisi pendidikan Setyono Djuandi Darmono yang menyebut pendidikan agama di sekolah menjadi pemicu politisasi agama.

Wakil Ketua Komisi X DPR Reni Marlinawati mengatakan pernyataan yang menganggap pendidikan agama sebagai pemicu adanya politisasi agama merupakan pernyataan yang keluar batas. “Tudingan terhadap pendidikan agama sebagai pemicu adanya politisasi agama merupakan pernyataan yang offside, ahistoris dan tidak paham dengan sistem pendidikan nasional,” ujar Reni di Gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Jumat (5/7/2019).

Baca Juga:

Pelajar Indonesia Raih 14 Medali di Genius Olympiad Amerika

Pengamat soal Sistem Zonasi: Setiap Sekolah Perlu Memperbaiki Kualitasnya

Wakil Ketua Umum DPP PPP ini mengatakan, pernyataan tersebut merupakan agitasi dan propaganda yang menyulut polemik di tengah publik. Dia meminta Setyono Djuandi Darmono untuk mengklarifikasi pernyataan tersebut. “Publik dibuat resah dengan pernyataan tersebut,” sebut Reni.

Reni menuturkan dalam UU UU No 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional telah jelas mata pelajaran pendidikan agama menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional di Indonesia. Menurut dia, pengajaran pendidikan agama merupakan hak yang diterima oleh anak didik. “Pasal 12 ayat (1) huruf a UU Sisdiknas secara tegas menyebutkan anak didik berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama,” urai Reni.

Reni menyebutkan tudingan pendidikan agama sebagai pemicu adanya politisasi agama merupakan tindakan simplifikasi. Menurut dia, agama tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan politik dan kehidupan sosial lainnya. “Agama harus menjadi sumber nilai etik dalam berpolitik dan dalam kehidupan sosial lainnya,” tegasnya.

Jika ada persoalan agama dijadikan komoditas politik

, kata dia, itu merupakan perkara yang berbeda yang tidak bisa dikaitkan dengan materi pendidikan agama di sekolah. “Politisasi agama merupakan hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan pembelajaran pendidikan agama di lembaga pendidikan. Jika logika itu dipakai, bagaimana dengan madrasah dan pesantren?” tanya Reni.

mengatakan pernyataan yang menganggap pendidikan agama sebagai pemicu adanya politisasi agama merupakan pernyataan yang keluar batas. “Tudingan terhadap pendidikan agama sebagai pemicu adanya politisasi agama merupakan pernyataan yang offside, ahistoris dan tidak paham dengan sistem pendidikan nasional,” ujar Reni di Gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Jumat (5/7/2019).

Wakil Ketua Umum DPP PPP ini mengatakan, pernyataan tersebut merupakan agitasi dan propaganda yang menyulut polemik di tengah publik. Dia meminta Setyono Djuandi Darmono untuk mengklarifikasi pernyataan tersebut. “Publik dibuat resah dengan pernyataan tersebut,” sebut Reni.

 

Baca Juga :


Menristekdikti: Inovasi di Perkuliahan Harus Ditingkatkan

 - 
Menristekdikti Inovasi di Perkuliahan Harus Ditingkatkan
Menristekdikti Inovasi di Perkuliahan Harus Ditingkatkan

Menristekdikti: Inovasi di Perkuliahan Harus Ditingkatkan

Menristekdikti Inovasi di Perkuliahan Harus Ditingkatkan

Menristekdikti Inovasi di Perkuliahan Harus Ditingkatkan

Di era Revolusi Industri 4.0, metode perkuliahan di perguruan tinggi Indonesia harus lebih inovatif, antara lain dengan penggunaan media digital, teknologi Virtual Reality (VR), Augmented Reality, dan Artificial Intelligence (AI). Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir mengatakan, misalnya saja pada jurusan kedokteran semestinya bisa mengembangkan pembelajaran melalui video 3 Dimensi.

“Ini adalah satu contoh metode perkuliahaan yang dikembangkan oleh Universitas Pelita Harapan (UPH)

khususnya di bidang kedokteran. Artinya, kuliah yang sudah menggunakan Artificial Intellingence (AI) atau kecerdasan buatan, kuliah yang sudah menggunakan Virtual Reality dan Augmented Reality (AR), ini harus kita dorong terus supaya mahasiswa mendapatkan proses pembelajaran yang sempurna,” ungkap Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir pada saat menyaksikan Visual Learning “The Amazing Human Brain and The Potential Catastrophe” di Jakarta.

Mantan rektor Universitas Diponegoro ini menambahkan, metode pembelajaran seperti ini bisa membuat mahasiswa tidak merasa kesulitan dalam menyerap materi yang sulit sekalipun dengan metode pembelajaran yang sangat sederhana. Guru besar akuntansi ini juga mengimbau kepada pimpinan perguruan tinggi lain untuk mulai bergerak melakukan metode pembelajaran yang baru dan inovatif ditengah perkembangan Revolusi Industri 4.0 yang sangat ini sedang kita hadapi.

Baca Juga:

Mendikbud Minta Pemenang OSN Bersiap Ikuti Olimpiade Internasional

PBNU: Jangan Ada yang Berpikir Meniadakan Pendidikan Agama di Sekolah

“Saya rasa perguruan tinggi harus melakukannya, kalau kita tidak punya fasilitasnya karena biaya yang sangat tinggi, untuk itu saya selalu sampaikan untuk perguruan tinggi agar melakukan kolaborasi. Kalau tidak dengan kolaborasi rasanya itu akan sulit untuk dikembangkan,” tambah Nasir.

Dirinya juga mengatakan, Kemenristekdikti juga sudah menerbitkan peraturan kepada pimpinan perguruan tinggi untuk mengembangkan metode pembelajaran Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan memudahkan akses masyarakat untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Kedokteran UPH Eka J. Wahjoepramono

memaparkan kuliah 3 Dimensi (3D) yang mengangkat topik ‘Eksplorasi Kehebatan Otak Manusia Dan Penyakit Yang Mengancam’ yang menjelaskan kehebatan otak yang memiliki sistem kerja yang kompleks dan menakjubkan. Otak manusia terdiri dari 100 milyar sel neuron, yang masing-masing terdiri dari 10.000 jaringan penghubung.

“Sehingga otak kita yang beratnya sekitar 1,5 kg ini, terdiri dari 10 pangkat 15 jaringan neuron” papar Eka. Setiap saat, jika tidak digunakan/dimanfaatkan untuk beraktifitas, maka sel-sel otak tersebut satu per satu akan mengalami kerusakan yang bersifat permanen. Untuk mencegahnya, otak harus selalu diinduksi dengan membaca, berfikir, dan beraktifitas yang positif dan produktif.

 

Sumber :

https://cs.byu.edu/job-posting/school-fundraisers-tips-raising-funds-your-school


40 Guru SMK Pelatihan Mengajar di Selandia Baru

 - 
40 Guru SMK Pelatihan Mengajar di Selandia Baru
40 Guru SMK Pelatihan Mengajar di Selandia Baru

40 Guru SMK Pelatihan Mengajar di Selandia Baru

40 Guru SMK Pelatihan Mengajar di Selandia Baru

40 Guru SMK Pelatihan Mengajar di Selandia Baru

Sebanyak 40 guru dan kepala sekolah kejuruan berprestasi se-Indonesia mendapatkan kesempatan

mengikuti pelatihan di Selandia Baru. Mereka akan mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas (capacity building).

“Selandia Baru dikenal sebagai negara yang memiliki keunggulan di bidang pendidikan kejuruan dari sekolah menengah atas, diploma, hingga tingkat doktoral yang dirancang memiliki hubungan dengan dunia kerja dan dunia usaha,” kata Dubes RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya lewat keterangan tertulisnya, Kamis (9/11/2017).

Kegiatan pelatihan diadakan dalam bentuk seminar hingga kunjungan ke sekolahPelatihan diadakan dalam bentuk seminar hingga kunjungan ke sekolah (Foto: dok. Istimewa)

Kegiatan ini dilakukan di Auckland University of Technology (AUT), Selandia Baru, dari 14 Oktober sampai 4 November 2017. Selain meningkatkan kapasitas para guru, pelatihan ini dirancang agar para pengajar dapat membuat siswa lebih aktif dan lebih mudah memahami materi ajar.

Kegiatan pelatihan diadakan dalam bentuk seminar, diskusi antarpengajar, workshop

, dan kunjungan ke sekolah-sekolah. Diharapkan, pelatihan ini membuat para guru dapat mengaplikasikan metode pengajaran lebih baik.

Tantowi sempat memaparkan tentang ‘Selandia Baru Negara Sahabat di Pasifik’. Dia menjelaskan Selandia Baru masih memiliki potensi kerja sama di berbagai bidang, terutama di bidang pendidikan, ekonomi, dan budaya.

AUT adalah satu dari 8 universitas terbaik di Selandia BaruAUT

adalah satu dari delapan universitas terbaik di Selandia Baru. (Foto: dok. Istimewa)

Selama ini AUT aktif menjalin kerja sama pendidikan dengan pemangku kepentingan di Indonesia. Pada 2016, 50 penggiat seni budaya yang terpilih mengikuti pelatihan di AUT. AUT adalah satu dari delapan universitas terbaik di Selandia Baru.

“Sebagai bagian dari tugas kami dalam upaya mencerdaskan rakyat Indonesia, kami terus giat membangun komunikasi dengan berbagai universitas di Selandia Baru dalam rangka mencari peluang kerja sama dalam berbagai bentuk dan juga beasiswa,” jelas Tantowi.

 

Sumber :

https://thriveglobal.com/stories/the-internet-is-the-place-where-we-can-get-everything-that-we-need/


Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Manusia

 - 

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Manusia

Perlu diketahui, bahwa telah menjadi kewajiban seorang motivator untuk membangkitkan emosional dan kepercayaan diri serta menggali dan mengembangkan potensi, demi meraih masa depan yang lebih baik. Ada beberapa segi yang mampu memengaruhi semangat manusia didalam berbuat.

1. Tujuan yang jelas
Tujuan yang memahami akan menolong seseorang didalam studi ataupun bekerja. Seseorang yang tidak memahami apa tujuan belajar, tidak akan bersemangat dan rajin, hal ini sebab ia tidak memahami apa yang dicari dan akan dicapainya. Oleh sebab itu, sebelum akan seseorang atau bekerja, hendaklah menetapkan tujuan lebih-lebih dahulu. Tujuan ini biasanya dikaitkan termasuk dengan kebutuhan-kebutuhan yang akan dipakai untuk menolong kelancaran suatu proses. Di samping itu, tujuan, visi, dan misi termasuk mampu memperngaruhi motivasi, lebih-lebih untuk grup yang menjadi pijakan mereka didalam melakukan tugas dan pekerjaannya.

2. Tantangan
Pada hakikatnya manusia telah dikaruniai mekanisme pertahanan diri yang biasa disebut fight atau flight syndrome. Di kala dihadapkan pada suatu tantangan, secara naluri manusia akan melakukan suatu tindakan untuk menghadapi tantangan itu (fight)/menghindar (flight syndrome). Dalam banyak masalah tantangan yang ada, merupakan suatu rangsangan untuk meraih kesuksesan. Dalam kata lain, sebuah tantangan justru dijadikan sebagai motivator. Tetapi, tidak semua pekerjaan senantiasa mampu menghadirkan tantangan. Seorang individu/sebuah tim tidak senantiasa akan menghadapi suatu tantangan. Oleh sebab itu tantangan kudu dibuat dan diselenggarakan untuk mengimbuhkan motivasi. Tantangan itu, sebagaimana motivasi, mampu berasal dari luar dan dari dalam. Sebagai contoh, seseorang yang tidak termotivasi untuk belajar, mampu menjadikan temannya sebagai tantangan (saingan), didalam rangka untuk beroleh nilai tertinggi.
Secara internal tantangan mampu berbentuk suatu kesulitan dari pekerjaan tertentu. Suatu materi pengetahuan pengetahuan yang sukar mampu menantang seseorang untuk tetap mempelajari dan menggelutinya, sebab di dalamnya ia akan beroleh suatu kepuasan. Hanya saja kesulitannya itu tidak boleh berlebihan. Apabila benar-benar sukar dan diakui sebagai hal yang kemungkinannya sangat kecil dilaksanakan, maka seseorang/tim mampu saja menyerah sebelum akan menjadi mengerjakan. Tim termasuk akan malas untuk mengerjakannya sebab diakui tidak akan menyebabkan kebanggaan bagi yang melakukannya.

3. Tanggung jawab
Secara umum, setiap orang akan terstimulasi disaat diberi suatu tanggung jawab. Tanggung jawab mengimplikasikan terdapatnya suatu otoritas untuk sebabkan perubahan atau menyita suatu keputusan. Seseorang atau tim yang diberi tanggung jawab dan otoritas yang proporsional, akan condong punyai semangat kerja yang tinggi. Dengan kata lain, tanggung jawab mampu mendorong seseorang untuk belajar/bekerja. Dalam belajar, tanggung jawab mampu berbentuk suatu keharusan ikuti pelajaran/kuliah, dikelas, ikuti dan lulus ujian, menyelesaikann sekolah/kuliah didalam kala tertentu, dan lain sebagainya. Suatu grup (team work) yang diberi tanggung jawab untuk selesaikan dan memecahkan masalah (problem solving) yang sedang mereka hadapi, akan melaksanakannya dengan penuh semangat, disaat tanggung jawab itu dinilai mampu mengimbuhkan perubahan yang berarti.

4. Kesempatan untuk maju
Setiap orang akan melakukan banyak langkah untuk mampu mengembangkan diri, mempelajari rancangan dan keterampilan baru, serta melangkah menuju kehidupan yang lebih baik. Apabila seseorang menjadi mampu melakukan hal-hal tersebut, maka akan tercipta semangat dan komitmen yang tinggi. Hal ini penting, mengingat bahwa pertumbuhan pribadi mengimbuhkan nilai malah untuk individu didalam tingkatkan harga diri. Dan kalau seseorang didalam belajar/bekerja menjadi mampu mengembangkan diri, serta melangkah menuju kehidupan yang lebih baik, maka ia akan bersemangat didalam melakukannya.

5. Kepemimpinan
Kepemimpinan di sini membawa pengertian kepemimpinan bagi diri sendiri dan orang lain. Kepermimpinan bagi diri sendiri maksudnya kebolehan seseorang untuk mengarahkan dirinya ke jalan yang lebih baik, lebih maju, lebih disiplin, dan lain sebagainya. Kepemimpinan untuk orang lain bekenaan dengan kebolehan seseorang untuk mengarahkan dan membawa orang lain pada kehidupan yang lebih baik, lebih maju, lebih disiplin, dan lain sebagainya.
Jadi layaknya halnya didalam suatu grup yang diberi tanggung jawab untuk selesaikan dan memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi, akan melaksanakannya dengan penuh semangat disaat tanggung jawab itu dinilai mampu mengimbuhkan perubahan yang berarti.
Perlu diketahui, tidak dipungkiri bahwa kepemimpinan merupakan segi yang benar-benar berperan perlu didalam beroleh komitmen dari orang-orang yang dipimpin. Seorang pemimpin berperan didalam menciptakan kondisi kondusif bagi grup untuk bekerja dengan tenang dan harmonis. Seorang pemimpin yang baik termasuk mampu memahami faktor-faktor yang mampu menyebabkan semangat layaknya yang disebutkan di atas.

Demikianlah ulasan berkenaan “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Manusia”, yang pada kesempatan kali ini mampu bahas di ReadyyGo dan untuk kurang/lebihnya mohon maaf. Saran dan kritik benar-benar dibutuhkan ReadyyGo supaya kedepannya akan jauh lebih baik, anda mampu tuliskan dikolom komentar. Semoga ulasan di atas berfaedah dan tingkatkan wawasan anda pembaca ataupun pengunjung, dan tidak lupa pula ReadyyGo ucapkan menerima kasih, sebab telah setia, dan senantiasa membaca ulasan-ulasan yang telah ReadyyGo publikasikan. Cukup sekian, penutup singkat yang kiranya mampu ReadyyGo sampaikan. Sampai jumpa di lain waktu, dan semoga anda menjadi orang yang sukses!

Sumber : https://www.kumpulansurat.co.id/

Baca Juga :