Home Pendidikan • 5 Hal Ini Akan Membunuh Motivasi Siswa

5 Hal Ini Akan Membunuh Motivasi Siswa

 - 

5 Hal Ini Akan Membunuh Motivasi Siswa

Keinginan belajar siswa, terlebih anak SD, lebih banyak ditentukan oleh faktor eksternal. Ada anak yang udah suka belajar sejak berasal dari rumah. Namun tetap amat banyak yang wajib dimotivasi sehingga senang belajar.

Kenapa tiap-tiap anak wajib dimotivasi?

Kebanyakan, siswa berangkat ke sekolah hanya mendambakan belajar. Kadang-kadang mereka tidak menyadari dan tidak menyadari langkah belajar yang baik. Mereka hanya siap menerima dan memperoleh ilmu. Lantas kenapa tersedia siswa yang rajin dan tersedia siswa yang tidak cukup rajin? Bahkan, tersedia siswa yang enggan berangkat ke sekolah?

Kita wajib ingat bahwa tiap-tiap anak suka bersama dengan belajar. Mari kita mengingat seorang anak kecil di usia 3, 4, atau lima th. yang selamanya mendambakan bertanya kepada orang dewasa mengenai banyak hal. Jika orang dewasa menjawabnya bersama dengan langkah yang tidak baik atau lebih-lebih meresponnya bersama dengan kemarahan selagi anak bertanya, maka hilanglah keasyikan bertanya terhadap diri anak.

Di sekolah juga sama, tersedia lebih dari satu perihal yang sanggup membunuh impuls anak. Padahal, Kita wajib menjaga impuls tiap-tiap anak yang mendambakan belajar sehingga mereka sanggup berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Inilah 5 perihal yang sanggup membunuh impuls siswa di sekolah:

Sulitnya menyadari materi
Setiap anak sanggup menyadari materi baru. Perbedaan terdapat terhadap kecepatan dalam memahami. Perbedaan ini lebih kepada faktor langkah belajar siswa. Ada siswa yang cepat menyadari disaat pelajaran dilengkapi bersama dengan praktik. Ada juga siswa yang amat cepat menyadari disaat hanya mendengarkan penjelasan guru.

Meskipun demikian, tersedia lebih dari satu penyebab mengapa anak mengalami susah dalam menyadari materi belajar.

a. Materi tidak disampaikan bersama dengan bhs anak sehingga kelihatan amat rumit bagi anak.

b. Ada tahapan yang terlewati.

Anak kelas 5 SD, misalnya, disaat akan mempelajari materi bilangan pecahan maka dia akan amat susah jika dia belum hafal perkalian dan belum sanggup pembagian. Maka, tahapan tiap-tiap kelas wajib terpetakan bersama dengan baik.

c. Langkah-langkah dalam belajar tidak sistematis. Memulai belajar berasal dari langkah yang termudah lantas ke tingkat yang tengah hingga ke tingkat yang rumit sanggup memudahkan siswa dalam belajar.

d. Tujuan belajar amat banyak dalam satu pertemuan. Bukankah lebih baik anak menyadari dan menguasai tiga materi daripada anak melewati sepuluh materi tetapi tidak satupun yang dia pahami. Di sinilah kepintaran seorang guru dibutuhkan dalam mengelola tujuan kurikulum. (baca: Belajar=Melatih Berfikir, Bukan Belajar=Menghafal Materi)

Tes yang amat banyak
Jika tiap-tiap hari tersedia tes dan tes tersebut masuk dalam penilaian, maka sanggup saja sebabkan anak stres. Memang, tersedia anak yang mempunyai kesungguhan belajar dan selamanya menyiapkan diri untuk tes, tetapi jika porsi yang diberikan berlebihan maka sanggup saja kegairahan belajar terbunuh oleh nilai yang tidak cukup bagus dalam tes.

Yang lebih memprihatinkan adalah disaat keluar pemikiran terhadap diri siswa bahwa tujuan belajar adalah untuk merampungkan soal-soal ulangan saja. Dengan demikian, anak tidak menyadari apa kegunaan dan kegunaan belajar dalam kehidupan sehari-hari. (baca juga: Tujuan Belajar Yang Sesungguhnya)

Tidak tersedia kesempatan memperbaiki
Kesalahan dalam belajar adalah suatu hal yang baik. Dengan kekeliruan yang dilakukan, anak akan belajar mengenai usaha yang lebih baik, belajar mengenai langkah yang lebih tepat, dan belajar untuk memperbaiki.

Jika kesempatan untuk melakukan perbaikan hasil tes tidak disediakan, maka anak akan menganggap bahwa dirinya wajib selamanya benar. Padahal, orang dewasa samasekali tidak sanggup jalankan perihal tersebut. (baca: Cara Yang Sangat Bagus Dalam Membantu Prestasi Siswa)

Remedial adalah hak siswa. Mari kita yakinkan tiap-tiap anak bahwa tersedia tes yang sanggup mereka perbaiki jika hasilnya tidak cukup bagus, tetapi juga tersedia tes yang mereka tidak mempunyai kesempatan untuk memperbaikinya.

Cara mengajar yang membosankan
Ini faktor penting. Anak yang mendambakan belajar perlu langkah belajar yang baik. Ketika mereka belajar mengenai langkah belajar (learn how to learn) dan memperoleh pengalaman yang terus membosankan dalam belajar, maka menurut mereka belajar itu membosankan.

Ada lebih dari satu faktor yang menjadikan proses belajar menjadi membosankan bagi anak.

a. Terlalu banyak “ceramah”

Ceramah berbeda bersama dengan mendongeng atau bercerita. Metode “ceramah” yang ditujukan di sini adalah memberikan materi belajar melulu pakai lisan. Tanpa praktik, tanpa diskusi, tanpa bertanya jawab, dan tanpa mencoba.

b. Materi tidak update

Boleh saja materinya sebetulnya tidak update, akan tetapi menghubungkan bersama dengan keadaan kekinian adalah perihal mutlak yang wajib kita jalankan sebagai seorang guru. Ingat contextual teaching plus learning.

c. Mengajar bersama dengan langkah yang monoton. (baca : Cara Mencipatakan Satu Bulan Pertama Yang Wow Di Sekolah)

Kurangnya perhatian
Kadang-kadang tersedia anak yang menganggap layaknya ini,

Mereka, para guru, mendambakan kita berperilaku layaknya orang dewasa, tetapi memperlakukan kita layaknya anak kecil.

Jika kita tidak menambahkan perhatian sama sekali kepada anak, maka anak jadi kehadirannya tidak mutlak dan tidak dibutuhkan. Perhatian yang sedikit pun sanggup sebabkan anak susah membebaskan persoalan yang mereka hadapi.

Maka, mendampingi anak secara emosional akan menambahkan dampak yang amat positif bagi pertumbuhan emosional dan mental anak-anak.

Sumber : https://www.lele.co.id/panduan-lengkap-7-cara-menanam-hidroponik-sederhana-di-pekarangan/

Author:m7xap