Home Pendidikan • Belajar dari Keluguan

Belajar dari Keluguan

 - 
Belajar dari Keluguan
Belajar dari Keluguan

Belajar dari Keluguan

Belajar dari Keluguan

Belajar dari Keluguan

Menjelang tahun 2000, ketika salah seorang warga di kampungnya (di sebuah desa kecil bernama Tale, lima jam perjalanan darat dari Makassar) membeli televisi, dia selalu datang setiap pekan ke rumah tetangganya itu.

Untuk menonton Wiro Sableng.

Dia pun mulai percaya bahwa dada manusia memiliki rongga agar mereka bisa menyimpan benda-benda yang diinginkannya di sana, termasuk kapak. Belasan tahun kemudian, dia menjadi penulis dan selalu merasa beruntung, lantas berterima kasih kepada masa kecilnya yang lugu.

Anak-Anak sebelum dan setelah Revolusi Rumania

“Apakah air mata itu? Dan apa arti kata modern?”

Pertanyaan tersebut muncul pada riset Profesor Dorel Zaica di Bukares pada awal 1970 kepada anak-anak yang tumbuh sebelum kediktatoran Nicolae Ceausescu. Seorang anak berusia sembilan tahun menjawab pertanyaan pertama dengan mengatakan: Air mata adalah keringat dari otak manusia yang lelah berpikir.

Pertanyaan nomor dua dijawab anak berusia tujuh tahun. Katanya, modern adalah ketika kau melihat sesuatu yang indah dan mahal tetapi kau tidak punya cukup uang. Ketika pertanyaan yang sama diajukan puluhan tahun kemudian kepada anak-anak yang tumbuh menjelang dan setelah Revolusi Rumania, jawabannya membuat Zaica sedih sekaligus khawatir.

Merujuk pada pemerintahan Ceausescu, penyair Andrei Codrescu mempertegas lantas menyayangkan masalah tersebut di buku kumpulan esainya, The Devil Never Sleeps. Dia menulis, “Kapitalisme mencuri keluguan anak-anak Rumania.”

Bagi Cezar-Paul Badescu, editor kolom anak di jurnal kebudayaan Dilema, anak-anak pada masa itu telah kehilangan spontani­tas dan kekanak-kanakan mereka. Mereka mendapat begitu banyak informasi dari media dan televisi, mereka cerdas -dengan kata lain: mereka seperti orang dewasa.

Satu contoh dari pertanyaan-pertanyaan Zaica yang dirangkum dalam bukunya, The Zaica Experiment, memunculkan jawaban dari anak di tahun 1970 bahwa gambar di prangko merupakan gambar jalan tempat sebuah surat akan dikirim, sedangkan anak pada tahun 1996 mengatakan bahwa prangko adalah alat untuk mengidentifikasi sebuah surat.

Dua jawaban tersebut seperti sebuah simpulan bahwa rasionalitas anak-anak telah merenggut keluguan mereka -dan itu didukung bah informasi yang tidak dikontrol dan tidak disaring dari peradaban tempat mereka tumbuh.

Misuzu Kaneko dan Gema Puisinya

Tsunami yang mengakibatkan kematian belasan ribu orang di Jepang pada Maret 2011 secara tidak langsung “menghidupkan” kembali seorang penyair, penulis puisi anak, yang bernama Misuzu Kaneko. Untuk menabahkan keluarga korban dan menyemangati orang-orang agar bangkit dari bencana, stasiun televisi di Jepang menayangkan pembacaan puisi Kodama Deshou ka? atau Are You an Echo?.

Itu sebenarnya puisi yang ditulis Kaneko untuk anak-anak. Sebelum mengakhiri

hidupnya di usia 27 tahun pada 1930, Kaneko merupakan penyair penting bagi kesusastraan Jepang. Namun, namanya lalu hilang dan karyanya tak dibaca lagi hingga puluhan tahun kemudian.

Penemuan kembali atas karya-karya Kaneko bermula ketika puisinya yang lain, Big Catch, dibaca penyair Setsuo Yazaki pada 1966. Yang kemudian melakukan penelitian selama 16 tahun dan akhirnya menemui Masasuke, adik lelaki Kaneko yang menyerahkan tiga catatan harian milik kakaknya kepada Yazaki.

“Siapa penyair ini? Dia bahkan bisa mengerti perasaan ikan di lautan!” Yazaki tidak henti-henti mengagumi kepekaan, imaji, dan keluguan kanak-kanak dalam puisi-puisi dalam catatan harian yang diterimanya. Sehingga dua tahun kemudian dia menerbitkan kumpulan puisi lengkap karya Kaneko. Kaneko pun kembali menjadi penyair penting yang banyak dibaca.

Jika kekuatan adalah seseorang yang menunjukkan otot atau memamerkan seberapa kuat

dia bisa menghantam tinju atau mengangkat beban, karya Kaneko berada pada definisi kekuatan yang lain. Puisi-puisinya mengandalkan keluguan kanak-kanak, tidak ada akrobat kata-kata, dan tidak ada penjelasan berbelit-belit.

Yazaki menggambarkan karya Kaneko dalam pengantarnya di buku Are You an Echo? sebagai “puisi universal tentang pengalaman hidup manusia yang melampaui kemanusiaan itu sendiri, dengan kesederhanaannya, dengan perspektif kanak-kanak, Kaneko berhasil menyentuh jauh ke dalam diri pembaca dewasa” -dan Jepang berhasil bangkit dari bencana. Salah satunya karena puisi, tepatnya puisi yang ditulis untuk anak-anak.

Tiga Peristiwa tentang Keluguan

Pertama, anak-anak Rumania menjadi dewasa karena informasi yang tidak dikontrol dan disaring. Kedua, orang-orang dewasa di Jepang dikuatkan oleh cara anak-anak memandang kehidupan di puisi-puisi Kaneko. Dan ketiga, seorang penulis yang percaya bisa menyimpan kapak di rongga dada pernah percaya cerita ayahnya bahwa pohon bisa bicara, bisa sedih, bahagia, dan kesakitan.

Karena itu, belasan tahun kemudian dia menulis cerita pendek, puisi, dan novel tentang pohon -pohon yang bersedih, marah, dan terluka. Juga, di sebuah koran, pada tanggal 25 November 2018, penulis tersebut berterima kasih atas pelajaran dari keluguan di masa kecilnya.

Dia percaya bahwa hidup yang rumit sering kali lebih mudah dihadapi dengan cara berpikir sebaliknya. Dengan lugu, dengan kembali dan meminjam cara pikir kanak-kanak.

 

Baca Juga :

 

 

Author:m7xap