Home Pendidikan • Budaya Penelitian Melawan Stigma “Generasi Cuek dan Instan”

Budaya Penelitian Melawan Stigma “Generasi Cuek dan Instan”

 - 

Budaya Penelitian Melawan Stigma “Generasi Cuek dan Instan” – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI) telah menyerahkan penghargaan remaja berprestasi dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR), National Young Inventor Awards (NYIA), dan Youth Science and Innovation Fair (YSIF) 2018 (4/11/2018).

Prestasi membanggakan diraih William murid SMA Laurensia, Tangerang-Banten, sukses meraih 3 kelompok penghargaan sekaligus. William sukses meraih penghargaan:

  1. Juara Pertama Lomba Karya Ilmiah Remaja bidang Ilmu Pengetahuan Teknik
  2. Gold medal IYSIF for Engineering Sciences
  3. Special Award on Computational Research

Semua penghargaan tersebut didapatkan William atas hasil penelitiannya bidang penerbangan “Studi Analisis Eksperimental dan Komputasional Modifikasi Angle Of Wingtip Ujung Airfoil Bac 449/450/451 terhadap Wingtip Vortex yang Dihasilkan.”

Di samping minat di bidang kedirgantaraan, ketika dihubungi William mengucapkan pemilihan subyek penelitiannya didasarkan pada keperluan akan penelitian ini di masa mendatang.

Tidak memberi batas diri dan berkomitmen

“Saya merasa bahwa masa depan tersebut akan sehubungan dengan penerbangan/dirgantara. Dengan begitu, diperlukan sesuatu yang dapat meminimalisir pemakaian bahan bakar supaya emisi yang didapatkan tidak merusak bumi,” jelasnya.

William mengawali proyek riset ini sejak mula masuk di ruang belajar X SMA Laurensia didampingi Gregorius Bryan, guru Fisika yang menjadi pendamping penelitian. Berdasarkan keterangan dari Bryan, kebiasaan penelitian sudah terintegrasi dalam proses pembelajaran di sekolah.

“Pendampingan untuk riset memang telah menjadi program belajar atau mata latihan (mapel) di sekolah dengan nama mapel Proyek Penelitian,” kata Bryan.

Bryan menambahkan, untuk William dan murid lain ia tidak jarang kali mengimbau supaya para murid mempunyai pola pikir luas dan tidak memberi batas diri.

“Kalau hendak belajar, tidak boleh melihat jangkauan penelitian apakah tersebut penelitian guna SMA, S1, S2, dan seterusnya. Di samping itu, siswa pun selalu saya ajak guna berkomitmen serius dalam menekuni penelitiannya,” jelas Bryan.

Melawan stigma ‘generasi instan dan cuek’

Kemenangan William dan murid lain dalam ajang ini seolah berkeinginan memupus stigma generasi milenial yang kerap di anggap sebagai generasi instan dan cuek pada lingkungan.

“Teman-teman selalu mengupayakan yang baru pak, mereka tidak pernah menyerah untuk menggali solusi dari permasalahan di dekat kita,” kata William optimis ketika ditanya perihal pandangan oleng yang kerap dicantumkan untuk generasinya.

Ia menambahkan, melalui https://www.bahasainggris.co.id kebiasaan penelitian yang terintegrasi dalam pembelajaran di sekolah, generasi milenial bisa menjadi lebih peduli terhadap lingkungan di sekitarnya.

Ia justeru melihat ‘budaya instan’ generasi milenial menjadi suatu kekuatan yang memiliki makna positif. “Karena yang instan tersebut didukung oleh teknologi pak, jadi kita ingin memilih yang instan. Karena anda merasa bahwa ‘kalau dapat cepat mengapa harus lama’?” jelas murid yang pun menyukai fotografi ini.

Sebagai unsur generasi milenial, ia menyaksikan nilai instan secara positif tersebut justru lebih tidak sedikit membantu saat melakukan penelitian. Ia memberikan contoh pemakaian 3D Printing, Kecerdasan Buatan (AI) atau Internet Things sebagai ‘budaya instan’ yang malah menunjang masa depan.

Membangun karakter lewat kebiasaan riset

Sebagai pendidik Bryan melihat kebiasaan penelitian yang telah ditanamkan semenjak usia muda bakal memberikan akibat baik dan positif.

“Karena menurut keterangan dari riset, edukasi dengan teknik penelitian bakal menghubungkan multi displin bidang yang murid butuhkan dalam menunjang penelitiannya. Selain tersebut proses beranggapan kritis atau critical thinking bakal semakin berkembang, sebab anak bakal belajar dari masalah dan penyelesaian yang ditemukan di lapangan,” jelas Bryan.

Tidak melulu kemampuan akademik, kebiasaan penelitian pun dapat menumbuhkan karakter positif siswa.

“Disisi lain, jati diri siswa pun akan terbentuk dengan sendirinya sebab harus disiplin dalam bimbingan, mengoleksi laporan cocok deadline, menumbuhkan sikap jujur dalam memungut data, berpikiran secara terbuka, kerja keras, tangguh, mengasah keterampilan berkomunikasi, serta berkolaborasi,” tutupnya.

baca juga: Bermain Jelajah Kota Sembari Belajar Transportasi

Author:m7xap