Home Pendidikan • KOSMOLOGI : MENGENALI ALAM SEMESTA

KOSMOLOGI : MENGENALI ALAM SEMESTA

 - 

KOSMOLOGI : MENGENALI ALAM SEMESTA

KOSMOLOGI MENGENALI ALAM SEMESTA

KOSMOLOGI MENGENALI ALAM SEMESTA

Pengantar
Menikmati pemandangan alam merupakan salah satu kegiatan santai yang dapat mengendurkan ketegangan akibat tugas-tugas sekolah yang seringkali terasa demikian berat. Tidak jarang kesantaian itu berkembang menjadi kesenangan rutin yang lalu melahirkan kerinduan yang luar biasa pada alam, pada keteraturan yang tiba-tiba saja diikuti dengan amukan dan keporakporandaan yang menghilangkan monotoninya.
Keindahan visual yang begitu menawan menjadi kian lengkap apabila kita mampu mengelupas demi lapis tampilan alam semesta untuk sampai pada mekanisme mendasar yang melandasinya. Sarang burung di pucuk pohon bukan sekedar tempat mengeram telur jika kita mengerti bagaimana punjung jantan selalu saja memilih jerami terindah diselingi warna menawan untuk memikat betinanya. Padang rumput bukan sekedar hamparan permadani lembut yang nyaman jika kita mengerti bahwa kehijauannya memerlukan terlebih dahulu muka bumi yang bergolak selama berjuta-juta tahun. Ribuan bintang di langit malam bukan lagi kerlap-kerlip cantik jika kita mengerti bagaimana selama bermilyar-milyar tahun seonggok awan raksasa tanpa bentuk berputar dahsyat, memilin, dan mengerut, untuk menghadirkan gemerlap malam yang tak terjamah itu. Padang itu, bintang-bintang itu, menjadi saksi bahwa alam mampu menyelaraskan kesemrawutan.
Seringkali saya menerima pertanyaan, kenapa belajar kosmologi yang begitu jauh dari kehidupan manusia yang masih menuntut amat banyak perhatian? Ilmu ini seperti tidak berkaitan langsung dengan derap langkah manusia di Bumi yang sibuk menapak di planet kecil ini demi mengolah, membangun, dan menguasai alam. Kosmolog, dan para astronom, mengembarakan pikiran ke wilayah senyap di antara bintang-bintang. Adakah gunanya?

Mungkin kita bisa mendengar apa yang disampaikan seorang astrofisikawan kenamaan William Mc.Crea, bahwa kosmologi adalah sesuatu yang datang pada setiap orang, bukan sesuatu yang dapat dipilih untuk dipelajari. Mengapa? Kosmologi adalah seluruh sejarah upaya manusia untuk memahami semesta dan memahami kehadiran dirinya yang selalu bertanya, ‘mengapa aku ada di sini?’, ‘haruskah aku hadir?’ , ‘mengapa aku dapat hadir dalam alam semesta ini?’. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sudah menggema sejak manusia tegak berdiri di muka Bumi dan menengadah ke langit.

Apakah kosmologi?

Istilah kosmologi berasal dari bahasa Yunani kosmos yang dipakai oleh Pythagoras (580-500 SM) untuk melukiskan keteraturan dan harmoni pergerakan benda-benda langit. Istilah ini dipakai lagi dalam pembagian filsafat Christian Wolff (1679-1754).
Kosmologi adalah pengetahuan tentang alam semesta. Dalam penggunaan modern oleh para ilmuwan, kosmologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang berupaya memahami struktur ruang-waktu dan komposisi alam semesta skala besar dengan menggunakan metode ilmu pengetahuan alam. Ini berarti kosmologi memanfaatkan pengamatan rinci untuk memperoleh data dan memanfaatkan teori-teori fisika untuk menafsirkan data tersebut, serta mempergunakan penalaran matematika atau penalaran logika lainnya yang terkandung dalam teori-teori tersebut untuk memperoleh pengetahuan lengkap mengenai alam semesta fisik.
Kosmologi bukan astronomi yang membagi-bagi seluruh alam semesta menjadi galaksi, bintang, planet, bulan, lalu menelaahnya satu demi satu. Kosmologi memadukan semua cabang dan ranting pohon ilmu pengetahuan untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai alam semesta. Kosmologi menelaah ruang dan waktu, menyelidiki asal-usul semua materi pengisi alam, mempelajari peristiwa kosmis penting, termasuk asal mula kehidupan dan kemungkinan perkembangan kecerdasan.
Masalah yang dihadapi para kosmolog modern adalah mempersatukan sifat-sifat alam semesta teramati untuk memperoleh model-model alam semesta yang akan mendefinisikan struktur dan evolusinya. Model alam semesta menjadi sarana yang dibangun manusia untuk memperoleh gambaran mengenai alam semesta yang demikian luas. Model ini dibentuk dengan bertumpu pada data empiris dan teori-teori fisika. Model alam semesta pun senantiasa diujikan. Hasil-hasil amatan baru atau teori-teori baru akan mengubah model alam semesta dari waktu ke waktu.
Apakah model yang dibangun para kosmolog merupakan cermin Alam Semesta? Kita mungkin tidak pernah dapat memastikannya. Dalam membuat model alam semesta, para kosmolog ibarat seorang pembuat topeng yang harus memasangkan topeng buatannya pada seraut wajah tak dikenal, Alam Semesta. Ia hanya mempunyai satu Alam Semesta, dan ia berada di dalamnya. Ia tidak pernah mengetahui seperti apakah Alam Semesta sesungguhnya. Kosmolog bukan membuat potret alam semesta, ia hanya membuat analoginya. Upaya ini tidak sederhana, namun terbukti berhasil melahirkan teori-teori tentang asal usul, struktur dan evolusi alam semesta yangdari waktu ke waktu menambah pemahaman kita mengenai ruang maha besar yang kita huni ini.

Dari Kosmos Magis ke Mitologi

Kosmologi modern didukung oleh piranti pengamatan astronomis dan sarana penghitung yang amat canggih, sehingga bahkan wilayah-wilayah alam semesta yang luar biasa jauh pun dapat dimasukkan ke dalam jangkauan pengetahuannya. Namun sebetulnya, selama ribuan tahun sebelumnya, manusia berjuang membuat model alam semestanya dengan hanya bertumpu pada mata telanjang dan perhitungan sederhana.
Model alam semesta paling dini dalam sejarah kosmologi adalah kosmos magis yang dipenuhi oleh emosi gaib. Kosmos ini melahirkan kisah-kisah menakutkan yang sering kita jumpai dalam dongeng masa kecil. Tidak jelas kapan era ini berawal, tetapi yang jelas masa ini berakhir ketika manusia mulai membangun dan menghuni kota-kota sekitar 10.000 tahun lalu.
Pada era ini, kekuatan magis yang bergentayangan dari pohon ke pohon, meloncat dari satu gumpalan awan ke gumpalan lainnya, yang mendebur dari lautan ke daratan, atau di mana pun mereka bersemayam, menjelma ke dalam tubuh dewa dan dewi penguasa kosmos. Inilah era mitologi. Mitologi menjadi kosmologi prailmu, karena mitologi adalah upaya tertua manusia untuk mulai menjelaskan kosmos dengan cara yang sistematik.
Mitologi tertua mengenai alam semesta yang dapat ditelusuri sejauh ini, berasal dari Sumeria (sekarang Irak), Babilonia, Yunani Cina, Suku Maya dan India. Isi mitologi amat beragam, tetapi umumnya dapat ditarik sebuah kesimpulan sederhana bahwa semua model itu bersifat antroposentrik, yaitu menjadikan manusia sebagai pusat segala kegiatan di dalam alam semesta. Para dewa dan dewi yang sedemikian kuasanya pun hanya disibukkan oleh urusan manusia dari waktu ke waktu.

Awal untuk sebuah Kosmologi Modern

Mitologi merupakan upaya menjelaskan gejala yang tampil di alam dengan cara mencari penyebabnya di luar alam, yaitu kehendak para dewa dan dewi. Era mitologi mulai berakhir ketika manusia tidak lagi mencari penyebab gejala di luar alam, melainkan dari dalam alam sendiri. Para filsuf Yunani mulai memikirkan air, atau udara, atau api, sebagai penyebab segala sesuatu di dalam. Inilah tahap filsafat alam yang dimulai kira-kira abad ke-6 SM.
Sekalipun demikian, gagasan kosmos antroposentrik tetap melekat dalam pemikiran Yunani kuno dan terwujudkan dalam gagasan kosmos geosentrik. Bermacam-macam model alam semesta muncul dan tenggelam sejak itu, tetapi ada satu kosmos geosentrik yang diyakini kebenarannya selama lebih dari 14 abad. Kosmos itu adalah kosmos geosentrik Ptolomaues yang diajukan tahun 140. Ptolomaues yakin bahwa bukan saja Bumi itu adalah pusat tata surya, tetapi pusat gerak seluruh alam semesta. Dengan bantuan aturan-aturan geometri yang rumit, ia mencoba menjelaskan gerak benda-benda langit yang tampak sepanjang tahun. Kosmos geosentrik ini terasa nyaman untuk manusia, karena bukan saja berarti bahwa ia tetap menjadi pusat kegiatan kosmos, tetapi juga bahwa ia adalah mahluk yang pantas mendapat perhatian khusus.
Penggeseran posisi manusia dari tempat yang dipertahankan selama hampir sepanjang sejarah pemikiran manusia itu berlangsung melalui konsep heliosentris yang diajukan Copernicus. Copernicus mengatakan bahwa gerak benda-benda langit sepanjang tahun yang seakan-akan mengelilingi Bumi sesungguhnya adalah gerak semu akibat peredaran Bumi mengelilingi Matahari. Semua planet dan bulan-bulannya mengedari Matahari dalam suatu tata surya; di luar planet yang terjauh terdapat selubung bintang-bintang yang semuanya berpusat di Matahari. Seluruh semesta berpusat di Matahari. Referensi : gurupendidikan.co.id

Author:m7xap