Home Pendidikan • Maluku Sebelum kehadiran Bangsa-Bangsa Barat

Maluku Sebelum kehadiran Bangsa-Bangsa Barat

 - 
Maluku Sebelum kehadiran Bangsa-Bangsa Barat

Maluku Sebelum kehadiran Bangsa-Bangsa Barat

Selamat mampir di Situs Pelajaran Oke dan terhadap peluang ini bisa akan membahas berkenaan “Maluku Sebelum kehadiran Bangsa-Bangsa Barat. Pada peluang ini Situs Pelajaran Oke membahas ulasan yang lebih membidik langsung terhadap situasi-situasi di Maluku kala itu, khususnya akan membahas Situasi Politik, Pemerintahan, Ekonomi dan Keagamaan. Untuk penjelasannya mari kami simak ulasan berikut ini.

Maluku Sebelum kehadiran Bangsa-Bangsa Barat

Situasi Politik
Sejarah Maluku terlampau sama dengan peristiwa kerajaan-kerajaan yang ada di area tersebut. meskipun sebagain besar mitos dan legenda. Kenyataan peristiwa perlihatkan bahwa di kawasan ini terdapat lebih berasal dari empat kerajaan yakni Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan yang merupakan kerajaan-kerajaan besar dan nampaknya punyai efek serta telah eksis sejak paruh pertama abad ke – 13.

Selain itu sebetulnya masih ada beberapa kerajaan kecil lainnya seperti Loloda, Moro, dan Obi yang tidak terlampau berpengaruh lantaran didominasi kerajaan-kerajaan besar, namun telah menghiasi lembaran peristiwa maluku dan pantas dicatat.

Penguasa kerajaan-kerajaan di Maluku ini disebut Kolano (dari bahasa Jawa Kelana)/raja, dan sesudah memeluk agama Islam sebutan Kolano dirubah jadi Sultan.

Dari empat kerajaan besar itu, hanya Ternate dan Tidore yang mempunyai posisi perlu di dalam situasi politik, ekonomi, maupun militer. Keduanya nampaknya mempunyai pandangan politik yang nyaris mirip yakni ekspansionis, dan oleh dikarenakan itu mempunyai kemampuan militer yang relatif nyaris berimbang.

Namun terdapat perbedaan di dalam mengimplementasikan ambisi ekspansionismenya, Ternate mengarahkan tujuannya ke barat kala Tidore ke Timur.

Ternate menanamkan efek dan kendalinya atas Ambon dan bagian barat pulau-pulau Seram. Di abad ke – 16 domonion Ternate pada akhirnya membentang berasal dari Mindanao di utara sampai dengan Flores di selatan, berasal dari Sulawesi Utara (Manado, Gorontalo, dan Kepulauan Sangir Talaud) sampai pantai timur Sulawesi Tengah (Kayeli, Tobungku, Banggai), berasal dari pantai timur Sulawesi Selatan (Buton) sampai Seram Barat dan Banda. Kerajaan berikut juga merasa mengobok-ngobok wilayah Kerajaan Jailolo, Loloda, dan Moro, yang berakhir dengan lenyapnya kerajaan-kerajaan itu dan jadi bagian berasal dari integral Kerajaan Ternate.

Pertengahan abad ke- 16 puncak kedigdayaan Ternate tercapai di jaman pemerintahan Sultan Khairun (1535 sampai 1545) dan 1546 sampai 1570 serta Sultan Babullah (1570 sampai 1583).

Dari sisi lain Tidore yang jadi pesaing Ternate di dalam ekspansi teritorial, menargetkan kawasan timur. Setelah sukses menguasai nyaris tiga perempat Halmahera dan Seram Timur, Tidore sukses menguasai Kepulauan Raja Ampat, dan lantas Papua Daratan serta menjadikan daerah-daerah itu sebagai vasalnya.

Secara politis ke-2 kerajaan itu saling berkompetisi ketat, namun suatu perang terbuka dan frontal tidak pernah terjadi. Terkadang berlangsung insiden kecil mewarnai pertalian keduanya, namun tidak sampai menimbulkan ofensif militer secara terbuka.

Pulau Makian sebagai contohnya; beberapa kali beralih tangan pada ke-2 kerajaan itu, namun hal berikut lebih disebabkan keinginan untuk menguasai sumber-sumber kekuatan alam (ekonomi) dan bukan militer ataupun politik.

Di th. 1332, keempat kerajaan diberi tanda tangan sebuah persekutuahn yang populer dengan nama Motir Verbond. Selain di dalam kompetisi politik dan perebutan hegemoni regional, sejak th. 1512 timbul kompetisi baru, yakni di dalam upaya untuk laksanakan kerjasama/bermitra dengan bangsa barat kepihak masing-masing.

Ketika menyadari berita bahwa armada Portugis telah tiba di Banda, Sultan Ternate Bayanullah (Boleif) langsung mengirimkan perahu tempur (juanga) untuk menjemput Francisco Serrao di Ambon.

Nampaknya hal mirip juga ditunaikan Sultan Tidore, namun kalah cepat agar dikala utusannya tiba di Ambon, Francisco Serrao telah lebih pernah diboyong ke Ternate.

Kerajaan Jailolo, yang merupakan kerajaan tertua dan telah eksis lebih dahulu berasal dari ketiga kerajaan besar lainnya, pernah punyai kekuasaan yang kuat di bidang politik maupun militer, dan jadi kerajaan Adidaya di kawasan Maluku. Namun efek politik dan militer kerajaan berikut tidak berlangsung lama.

Ternate dengan pemberian Portugis sukses melikuidasi kerajaan itu di th. 1551. Kemudian Ternate mendegradasi kerajaan itu sampai jadi sebuah distrik (sangaji). Semenjak itu Jailolo tidak pernah sukses mengembalikan dan membangun kekuasaannya seperti semula.

Bacan, kerajaan yang awalnya adalah kerajaan Makian dan dipindahkan ke pulau Kasiruta, perpindahan itu disebabkan oleh meletusnya gunung berapi Kie Besi, hanya memilik teritori di pulau Bacan dan Kasiruta.

Dalam perkembangannya, kerajaan ini bisa menguasai beberapa perkampungan di pantai utara Pulau Seram dan wilayah Gane Barat di selatan Halmahera.

Dalam kompetisi politik pada Ternate dan Tidore, nampaknya Bacan lebih dekat kepada Tidore. Hal ini dikarenakan kerajaan Bacan memainkan peranan perlu di dalam peristiwa penyebaran misi Katolik di Maluku. Di th. 1557, Raja Bacan yang baru dilantik, Alauddin, mengonversi agamanya berasal dari Islam ke Kristen Katolik. Kemudian ia perlihatkan seluruh kerajaan dan keluarganya jadi Kristen dan mengganti namanya dengan Dom Joao. Dan atas ultimatum Babullah, Dom Joao lagi lagi memeluk agama Islam.

Di samping itu nampaknya kerajaan lainnya tidak mempunyai peranan baik, ekonomi, maupun militer, yang relevan. Kerajaan Obi dikuasai Bacan, kala Moro dan Loloda di Halmahera Utara oleh Babullah digabungkan dengan Ternate.

Situasi Pemerintahan
Berlatarbelakang bahwa Maluku merupakan jazirah kerajaan, jadi tidak mengherankan andaikata di dalam style pemerintahannya adalah monarki yang dielaborasi dengan unsur-unsur tradisi mapun tradisi.

Tahta adalah lambang supremasi pemerintahan yang diduduki seorang raja sebagai pengambil ketetapan paling akhir atas seluruh urusan kerajaan dan pemerintahan. Seorang raja dibantu suatu birokrasi yang disebut Bobato (semacam menteri), yang dikepalai seorang Jogugu (perndana menteri), yang senantiasa dijabat tokoh-tokoh kepercayaan raja.

Pimpinan militer kerajaan dipegang seorang Kapita Laut (Panglima Laut) yang senantiasa dijabat putera mahkota atau salah seorang putera raja lainnya.

Wilayah kerajaan terbagi di dalam beberapa Jiko (semacam distrik) yang dipimpin seorang Sangaji (dalam bahasa Jawa: Sang Aji) yang disebut Jiko Ma Kolano (Kepala Pemerintahan Wilayah) yang membawahkan sejumlah Soa (komunitas setingkat desa) yang dikepalai seorang Kimalaha.

Selain seorang Sangaji yang menggerakkan tugas pemerintahan masih ada lagi yakni seorang Utusang yang diangkat raja, dan bertugas sebagai wakil spesial raja untuk mengurus kepentingan kerajaan, seperti menyatukan upeti dan tugas-tugas khusus lain.

Raja juga mengangkat seorang Salahakan (gubernur), sebagai pemerintahan wilayah daerah-daerah taklukan yang bukan kerajaan dan untuk daerah-daerah taklukan yang telah ada rajanya maka raja senantiasa memegang kekuasaan dan daerahnya jadi vasal.

Situasi Ekonomi
Utamanya kekayaan Maluku diperoleh berasal dari rempah-rempah cengkih. Tanaman rempah-rempah ini awalnya tumbuh secara liar di pulau Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Kasiruta. Cengkih baru dibudidayakan merasa th. 1450. Kekayaan akan rempah-rempah itu telah membuat para pedagang Melayu, Cina, Arab, Jawa, Persia, dan Gujarat mampir di daerah-daerah ini dengan mempunyai tekstil, beras, perhiasan, dan kebutuhan hidup lainnya untuk ditukar dengan rempah-rempah.

Pertukaran berikut membuat para pedagang asing meraup keuntungan berlipat ganda berasal dari terhadap rakyat kerajaan Ternate, Tidore dan Bacan yang penghasil rempah-rempah. Para Sultan, terutam Ternate dan Tidore menguasai sentral-sentral perdagangan rempah-rempah, juga jadi kaya raya dan terlampau makmur.

Perlu diketahui juga bahan makanan utama rakyat Maluku adalah beras, sagu dan ikan. Namun beras dan sagu tidak dihasilkan oleh Ternate dan Tidore. Kedua tipe bahan pangan itu didatangkan berasal dari Moro, Bacan, Sahu, dan wilayah Halmahera lainnya.

Situasi Keagamaan
Awal mulanya, yakni sebelum akan masuknya Islam, kepercayaan yang dianut raja dan rakyat adalah Animisme. Meskipun di dalam peristiwa Indonesia dikatakan bahwa sebelum akan masuknya Islam, kerajaan Majapahit yang Hindu itu telah menguasai seluruh Nusantara, namun di Maluku tidak terdapat bukti kesejarahan bahwa rakyat dan para rajanya pernah menganut agama Hindu. Di kawasan Maluku tidak dipernah ditemukan candi/prasasti yang mengidentifikasikan hal tersebut. Dari kenyataan itu sebetulnya terlampau disangsikan dan bertolak berasal dari bukti-bukti kesejarahan andaikata kekuasaan Majapahit yang besar itu pernah memberi efek atau menanamkan pengaruhnya di Maluku.

Sumber bacaan
M. Adnan Amal, 2010, Kepulauan Rempah-rempah, Jakarta: KPG

Demikianlah ulasan berkenaan “Maluku Sebelum kehadiran Bangsa-bangsa Barat”, yang kiranya sebetulnya Situs Pelajaran Oke tuliskan singkat, namun meskipun ulasan berikut singkat, semoga ada manfaatnya, dan Situs Pelajaran Oke terlampau berterima kasih dikarenakan anda telah menyempatkan diri untuk mampir ataupun membaca. Cukup sekian dan Sampai Jumpa! Dan jangan lupa raihlah impianmu dan hiduplah dengan penuh semangat! Semoga Sukses!

Baca Juga :

Author:m7xap