Home Pendidikan • PPDB Sesi Pemenuhan Pagu, Hanya Berlangsung Dua Hari

PPDB Sesi Pemenuhan Pagu, Hanya Berlangsung Dua Hari

 - 
PPDB Sesi Pemenuhan Pagu, Hanya Berlangsung Dua Hari
PPDB Sesi Pemenuhan Pagu, Hanya Berlangsung Dua Hari

PPDB Sesi Pemenuhan Pagu, Hanya Berlangsung Dua Hari

PPDB Sesi Pemenuhan Pagu, Hanya Berlangsung Dua Hari

PPDB Sesi Pemenuhan Pagu, Hanya Berlangsung Dua Hari

Siswa yang belum diterima di SMA/SMK negeri pada PPDB (penerimaan peserta didik baru) masih memiliki satu kali kesempatan. Sebab, Dinas Pendidikan Jatim membuka pendaftaran untuk pemenuhan pagu. Tadi malam pukul 00.00 akses pendaftaran bisa dibuka. Masyarakat dapat mengetahui pagu sekolah yang belum terpenuhi lewat laman https://ppdbjatim.net.

Sebelumnya, beberapa SMK negeri terlihat belum memenuhi target pagu. Salah satunya adalah SMKN 12

pada program keahlian seni pedalangan, kriya kulit, dan pemeranan. Karena itu, sekolah masih membuka banyak kesempatan bagi lulusan SMP yang ingin masuk SMK negeri.

Berbeda dengan SMKN 5 Surabaya. Pagu sekolah tersebut sebenarnya sudah terpenuhi. Namun, ada sejumlah siswa yang tidak melakukan daftar ulang hingga sesi daftar ulang ditutup. Waka Kesiswaan SMKN 5 Anton Sujarwo menyebut ada sembilan anak yang tidak daftar ulang. ”Jadi, kami ikut pemenuhan pagu,” katanya. Mekanismenya mengikuti ketentuan Dinas Pendidikan Jatim.

Hal serupa terjadi di beberapa SMA negeri. Sebut saja SMAN 16 dan SMAN 21. Ada calon peserta didik di dua sekolah tersebut yang tidak daftar ulang. Jumlahnya masing-masing empat anak. ”Semoga bisa menampung siswa yang belum lolos PPDB,” tutur Kepala SMAN 16 Surabaya Roosdiantini.

Pendaftaran menggunakan PIN yang sudah dimiliki. Pendaftaran dibuka hingga Selasa (11/7) pukul 00.00. Pengumuman bisa dilihat 30 menit setelahnya. Siswa yang lolos pada pemenuhan pagu bisa langsung melakukan daftar ulang di sekolah masing-masing pada Rabu (12/7). Siswa yang diterima PPDB, tapi tidak daftar ulang tidak bisa kembali mendaftar pada pemenuhan pagu.

 

Seragam Cadangan Beli di Pasar

Sementara itu, orang tua mesti mengeluarkan dana untuk menyiapkan seragam bagi anaknya. Di SMAN 5 Surabaya, misalnya. Saat daftar ulang pada Sabtu (8/7), Dharma, salah seorang wali murid, mengaku membeli bahan seragam Rp 1.620.000. Jumlah tersebut belum mencakup ongkos penjahit karena sekolah hanya menyediakan kain.

Jika wali murid ingin membeli seragam di luar sekolah, ada banyak pilihan. Misalnya, membeli kain, lantas menjahitkannya atau membeli seragam jadi. Pasar-pasar dan toko-toko di Surabaya memberikan harga yang bersaing.

Berdasar pantauan Jawa Pos di Pasar Wonokromo, pedagang menjual satu setel seragam sekolah SMA dengan harga Rp 130–150 ribu. Untuk pembelian lebih dari satu, pedagang akan memberikan potongan harga. Hal tersebut berlaku untuk seragam putih abu-abu maupun pramuka dengan kualitas yang paling bagus.

Harga seragam di Darmo Trade Center tak berbeda jauh. Penjual toko bernama Anik

menjual satu setel seragam SMA ukuran XL dengan harga Rp 160 ribu. Tentu, ukuran yang lebih kecil dibanderol dengan harga yang lebih murah. ”Harga tiap ukuran selisih Rp 5 ribu,” ucapnya.

Di Pasar Pucang Anom, pedagang menggunakan patokan harga dari pabrik konveksi. Atasan putih dan pramuka ukuran S sampai XL dibanderol Rp 64–92 ribu. Harga bawahan lebih mahal. Celana panjang anak laki-laki dihargai Rp 125–135 ribu. Sementara itu, rok untuk anak perempuan dibanderol Rp 111–132 ribu. Harga tersebut belum didiskon.

Tak jauh dari Pasar Pucang Anom, orang tampak bergerombol. Toko Semangat yang memang menjual seragam dijejali pembeli. Di toko itu, seragam atas putih dan pramuka SMA dengan kualitas terbaik dijual Rp 46–61 ribu. Rok seragam dijual Rp 71–97 ribu. Sementara itu, celana dijual Rp 100–128 ribu.

Ada pula wali murid yang membeli kain. Toko Trijaya di depan Pasar Pucang Anom menjual kain untuk seragam Rp 35 ribu per meter. Harga tersebut berlaku untuk kain seragam putih abu-abu maupun seragam pramuka. ”Kualitas di atas ini sudah tidak ada lagi,” jelasnya.

Meski demikian, tidak semua toko kain menjual kain seragam. Toko Ongko Joyo di kawasan yang sama adalah salah satunya. Pemiliknya mengaku tidak mendapatkan suplai dari pabrik kain. Sebab, sekolah-sekolah sudah menguasai pasar konsumen seragam. Karena itu, para pedagang kain tidak kebagian.

 

Sumber :

https://www.thecontentscoop.com/technology-reshaping-indonesian-education/

Author:m7xap