Home Pendidikan • BAMAG, Teknologi Terbaru RSUD DR Soetomo untuk Operasi Parkinson

BAMAG, Teknologi Terbaru RSUD DR Soetomo untuk Operasi Parkinson

 - 
BAMAG, Teknologi Terbaru RSUD DR Soetomo untuk Operasi Parkinson
BAMAG, Teknologi Terbaru RSUD DR Soetomo untuk Operasi Parkinson

BAMAG, Teknologi Terbaru RSUD DR Soetomo untuk Operasi Parkinson

BAMAG, Teknologi Terbaru RSUD DR Soetomo untuk Operasi Parkinson

BAMAG, Teknologi Terbaru RSUD DR Soetomo untuk Operasi Parkinson

Perkembangan teknologi 4.0 terus dilesatkan oleh Pemerintah Provinsi Jatim,

salah satunya dengan kolaborasi Kesehatan dengan Teknologi. Merujuk hal tersebut RSUD DR Soetomo bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berkolaborasi membuat inovasi dan terobosan baru dalam dunia medis.

Terobosan baru tersebut diperkenalkan sebagai BAMAG atau Brain Anatomy Morphology Generator yang dibuat dan dikembangkan oleh Prof. Ir. Riyanarto Sarno, SE, MSc, PhD, Profesor bidang Rekayasa Perangkat Lunak di ITS. BAMAG merupakan aplikasi untuk menentukan posisi dan titik koordinat diagnosa pada otak pasien parkinson.

Aplikasi ini merupakan pembentuk peta dan penentu titik koordinat letak Neurotransmiter

yang bermasalah, sehingga meminimalisir kesalahan dan memudahkan dokter dalam melakukan operasi parkinson dengan metode stereotactic brain lesion.

Dr Wahyuhadi, dr., Sp.BS (K), Direktur RSUD Dr Soetomo mengatakan bahwa sebelum adanya aplikasi BAMAG, RSUD DR Soetomo menggunakan aplikasi dari luar negeri yang biayanya cukup mahal, sehingga dengan hadirnya BAMAG yang buatan anak negeri dirasa sangat memudahkan.

“Aplikasi dari ITS ini membantu rumah sakit, baik dalam mempercepat proses bisnis di rumah sakit dan mempermudah proses bisnis di rumah sakit. Karena jelas lebih murah dengan kualitas yang setara bahkan lebih baik,” ungkap dr Joni.

Cara kerja aplikasi BAMAG ini dengan mengkombinasikan 3 data kondisi otak pasien parkinson

dari hasil CT Scan, MRI dan MRA. Dengan kombinasi ini BAMAG melebihi aplikasi pendahulunya yang dibuat oleh luar negeri.

Hasil analisis pemetaan dari BAMAG ini pula cukup mengesankan. Pasalnya sensitivitas pemetaan dinilai lebih tinggi dari aplikasi sebelumnya, yakni dapat membaca dan memetakan neurotransmiter yang bermasalah hanya dengan waktu 2 hingga 3 menit, sedangkan aplikasi dari luar negeri membutuhkan waktu 5 hingga 7 menit.

Prof. Riyanarto Sarno mengatakan bahwa aplikasi ini memang memiliki sensitivitas dan keakuratan lebih tinggi karena mengkombinasikan 3 hasil pembacaan masalah di otak. Oleh karenanya aplikasi ini mampu menurun resiko terjadinya kesalahan dalam operasi.

 

Sumber :

https://padlet.com/ojelhtcmandiri/jg3txs3m1nh

Author:m7xap