Home P.Umum • Biografi Peter Higgs (Pencetus Teori Partikel Tuhan/Higgs Boson)

Biografi Peter Higgs (Pencetus Teori Partikel Tuhan/Higgs Boson)

 - 

Biografi Peter Higgs (Pencetus Teori Partikel Tuhan/Higgs Boson)

Lahir di Newcastel 29 Mei tahun 1929, Higgs telah jatuh cinta dengan fisika semenjak remaja. Masa kecil kerap berganti kota. Mengikuti ayahnya yang berprofesi sebagai teknisi suara di radio BBC. Didera sejumlah penyakit, lantas kerap berganti kota itu, sekolahnya sebenarnya sempat berantakan.

Beruntung Higgs lantas memilih menetap dengan ibunya. Di sebuah kota kecil bernama Bristol. Sedang sang papa tinggal di Bedford. “Ibu mendorong aku untuk maju. Sedangkan ayah, dia hanya was-was berhadapan dengan tanggung jawab memelihara anak,” kata Higgs perihal papa ibunya.

Jatuh cinta dengan fisika telah terlihat kala dia bersekolah di Cotham Grammar School. Apalagi fisikawan Paul Dirac adalah alumni sekolah tersebut. Dirac yang diakui sebagai papa mekanika kuantum ini rupanya amat menginspirasi Peter Higgs.

Menapaki jejak Dirac, Higgs pun mulai menceburkan diri di dalam fisika teoritis. Dia amat bersemangat. Rajin studi dan membaca buku. “Ini perihal memahami, jelas dunia,” ujar Higgs dengan antusias.
Sekolahnya sempat berantakan. Sebab perang berkecamuk. Bristol luluh lantak dihujani bom tentara Jerman. “Hal pertama yang aku melaksanakan saat tiba di sekolah itu adalah mematahkan tangan kiri aku sehabis jatuh akibat bom,” kisah Higgs mengenang. Higgs termasuk terpisah berasal dari keluarganya hingga perang berakhir.

Di umur 17 tahun, Higgs lantas masuk ke City of London School. Dia menyita jurusan Matematika. Higgs tidak tertarik melanjutkan kuliah di Oxford atau Cambridge. Dia beralasan, “Itu merupakan area orang kaya untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktu,” kata Higss. Jika menghendaki serius soal universitas, lanjutnya, Anda perlu kuliah di area lain.
Higgs lantas kuliah di King’s College, London. Lulus berasal dari kampus itu jadi dosen di Universitas Edinburgh. Saat jadi dosen itulah, Higgs tertarik dengan misteri: mengapa benda di sekitar kita memiliki berat atau massa.

Pertanyaan itu terus berputar di benak. Suatu hari, kala tengah menghabiskan liburan di Cairngorms, sebuah kawasan pegunungan di lokasi timur Dataran Tinggi Skotlandia, Higgs mengutak-atik soal teori medan yang tak terlihat dan partikel itu.

Higgs lantas melaksanakan serangkaian penelitian. Hasil penelitian itu dikemas di dalam postingan ilmiah. Tulisan itu dikirim ke jurnal ilmiah “The Phsysics Letters”. Sayang postingan itu tidak diterima mentah-mentah para editor.
Lebih menyakitkan lagi, editor jurnal ilmiah yang dikelola oleh Organisasi Eropa untuk Penelitian Nuklir (CERN) itu menyebut temuan Higgs secara jelas tidak memiliki relevansi dengan fisika. “Ketika itu dia (Higgs) hanya berpikir, ‘Sudahlah, mereka tidak jelas itu’,” kisah ilmuwan yang jadi kolega Peter Higgs, Alan Walker.

Bukan hanya tidak diterima jurnal ilmiah bergengsi, Higgs termasuk kerap di ejek para sahabat. Banyak kolega yang mengira dia seorang idiot, sebab mengutak-atik teori medan kuantum, yang diakui telah kuno. Tapi dia tidak menyerah. Terus melaksanakan penelitian.
Sejumlah ilmuwan termasuk mengembangkan teori yang mirip dengan Higgs. Antara lain Robert Brout dan Francois Englert. Temuan mereka ini yang lantas dimuat di jurnal “Physical Review Letters”. Para ilmuwan itu sepakat menamakan medan tak terlihat beserta partikel itu dengan sebutan,”mekanisme Higgs”.

Lantaran namanya melekat di sejumlah artikel ilmiah itu, Higgs lantas diundang para ilmuwan di Institute for Advanced Study. Maret 1966.

Peter Higgs mengaku kuatir saat pertama kali menginjakkan kaki di Institute for Advanced Study. Institusi yang terdapat tidak jauh berasal dari Universitas Princeton, New Jersey, Amerika Serikat ini merupakan pusat riset paling bergengsi, lebih-lebih untuk riset teoritis.

Sejumlah ilmuwan besar, seperti Albert Einstein, penemu komputer Alan Turing, dan J. Robert Oppenheimer, pernah lama di institusi itu. Sedangkan Higgs dipanggil ke sana hanya untuk menguji teori fisika yang dikembangkannya dan mengusik para ilmuwan itu.

Higgs diminta untuk mengatakan teori itu di hadapan sejumlah ilmuwan fisika kelas dunia. Meski dilanda kuatir dan panik, Higgs tidak menghendaki kehormatan itu sia-sia. Apalagi dua tahun sebelumnya, Higgs mulai mendapat penolakan atas temuannya itu.

Dan sebenarnya benar. Dalam ujian itu teorinya dipreteli para fisikawan ternama itu. Serangan umumnya ke-2 hal: perihal medan tak terlihat dan partikel pemberi massa. Hebatnya dia menjawab seluruh pertanyaan itu dengan cekatan dan memukau.

Dan Higgs sungguh lega. Pada catatan akhir, tidak satu pun fisikawan di Institute for Advanced Study yang lihat cacat pada teori yang ditemukannya itu. Dia pulang dengan bahagia hati.

Tapi teori yang ditulis Higgs itu belum bisa dibuktikan. Sebab, partikel dan medan tak terlihat ini merupakan lokasi yang sungguh kecil. Sulit ‘dilihat’, bahkan dengan dengan bantuan teknologi tercanggih saat itu. Jadilah teori Higgs ini jadi tidak benar satu misteri yang belum terpecahkan bagi sains modern.

Empat puluh delapan tahun lantas — sehabis dicetuskan pertama kali tahun 1964 — hipotesa yang diajukan Higgs terbukti. Jika sebelumnya editor jurnal ilmiah berasal dari CERN menampik teori Higgs, kali ini CERN termasuk yang berhasil menunjukkan teori itu.

Dengan pakai laboratorium pemecah partikel raksasa Larga Hadron Collider (LHC), para ilmuwan ini menemukan partikel yang memiliki massa sekitar 125-126 GeV (Gigaelectronic Volts, atau satuan kekuatan setara miliaran electron volts).

Peter Higgs menangis. Ilmuwan pemalu ini tidak menyangka bahwa dia masih hidup kala teori itu menemukan kebenarannya.

“Saya tidak pernah memimpikan ini selama 48 tahun, sebab banyak perihal yang perlu aku melaksanakan di dalam hidup. Tapi awalnya, aku tidak menyangka bahwa aku masih hidup saat ini terjadi,” kata Peter Higgs.

Atheis Pengkritik Israel

Sejak dicetuskan 1964, mekanisme Higgs ini tidak begitu memikat perhatian. Hanya dibicarakan di kalangan ilmuwan. Teori itu baru menarik perhatian publik berkat Leon M. Lederman, peraih Nobel Fisika yang menulis buku berjudul “The God Particle: If the Universe is the Answer, What is the Question?”.
Dalam buku terbitan 1993, peneliti Fermilab itu mengaku berikan sebutan “Partikel Tuhan” sebab partikel ini amat utama di dalam jelas pengetahuan fisika saat ini.

“Sangat gawat untuk jelas susunan materi, namun begitu sulit untuk ditemukan,” kata Lederman. “Lagipula”, Lederman melanjutkan, “penerbit tidak kemungkinan berikan judul buku ini ‘Goddamn Particle’ (partikel terkutuk),” kelakar ilmuwan yang sebenarnya dikenal humoris ini.

Tapi Peter Higgs tidak bahagia dengan istilah “partikel Tuhan” ini. Meski mendeklarasi sebagai seorang atheis, Higgs jelas betul bahwa penamaan ini bersifat ofensif pada orang beragama.

“Saya perlu mengatakan kepada orang-orang bahwa itu adalah lelucon. Saya seorang atheis, namun aku tidak bisa beranggap ringan dengan bantuan nama yang tak perlu dan bersifat ofensif kepada mereka yang religius,” tutur Higgs.

Tak hanya itu, Higgs pun mulai risih dengan namanya yang melekat pada mekanisme dan partikel yang dicetuskan. Higgs jelas bahwa nama peneliti Belgia yang termasuk ikut mencetuskan, Robert Brout, Francois Englert, harusnya termasuk berhak menyandangkan nama mereka di partikel dan medan tak terlihat itu. Meski begitu Brout dan Englert mengaku tak keberatan dengan melekatnya nama Higgs itu.

Higgs sebenarnya dikenal sebagai seorang yang rendah hati dan memiliki komitmen yang humanis. Meski mengembangkan fisika yang perihal dengan nuklir, Higgs masih dikenal sebagai aktivis untuk kampanye pelucutan senjata nuklir.

Selain itu, Higgs termasuk pernah menampik datang saat dia diberi penghargaan Wolf Prize bidang Fisika, tahun 2004 silam. Alasannya sederhana, Higgs tak menghendaki terbang ke Yerussalem dan menghadiri acara kenegaraan Israel yang dihadiri Presiden Israel saat itu, Moshe Katsav. Dan ini merupakan wujud protes Higgs pada aksi Israel di Palestina

Penemuan Partikel Higgs boson, yang kerap disebut termasuk Partikel Tuhan.

Hari masih terang tanah, namun di markas Center for Nuclear Research (CERN) di Jenewa, Swiss aktivitas telah dimulai, Rabu 4 Juli 2012 lalu. Ribuan ilmuwan antri panjang sambil menghindar kantuk. Mereka perlu bangun pukul 05.00, untuk meraih tiket kursi di auditorium.

Perjuangan itu tampaknya setimpal. Yang hendak disaksikan adalah satu presentasi penelitian kolosal, melibatkan 3.000 ilmuwan berasal dari 40 negara. Tim itu terbagi dua, dipimpin Joe Incandela dan Fabiola Gianotti, yang bereksperimen terpisah di Large Hadron Collider –A Toroidal LHC Apparatus (ATLAS), dan Compact Muon Solenoid (CMS).

Mereka dapat memberitakan temuan sebuah partikel baru, yang memiliki massa sekitar 125-126 gigaelectronvolts (GeV). Itu artinya, sekitar 130 kali lebih berat proton yang jadi inti berasal dari setiap atom.

Ini sungguh pencapaian sulit, dan pasti saja mahal. Penelitian itu memakai Large Hadron Collider (LHC), pemercepat partikel selama 27 kilometer, terkubur di bawah tanah di perbatasan Prancis dan Swiss. Dibangun dengan dana US$10,5 miliar, alat itu dipakai untuk menciptakan lagi suasana sehabis Big Bang, ledakan mahabesar, yang dikira sebagai awal penciptaan alam semesta.

“Sebagai manusia awam, aku dapat mengatakan, kita telah menemukannya,” kata Direktur Jenderal CERN, Rolf Heuer. Meski tak memastikan, dan hanya menyebut partikel yang temukan adalah boson, para ilmuwan percaya 99,999 %, partikel baru itu berkesinambungan dengan apa yang selama ini mereka cari: Higgs boson.

Tepuk
tangan pun pecah. Sejumlah orang menangis haru. Seorang pria separo baya mengelap matanya yang basah dengan tisu. Dia adalah Peter Higgs. Hari itu, penantian panjangnya selama 48 tahun berakhir.

“Aku tak pernah memimpikan ini dapat terwujud saat aku masih hidup,” kata Profesor berasal dari University of Edinburgh itu seperti dimuat Guardian. Maklum, usianya telah senja, 83 tahun. “Aku perlu berharap keluargaku menyimpan sampanye di dalam kulkas. Untuk merayakannya.”

Higgs tak menyangka, buah pikirannya pada 1960-an, partikel yang menyandang namanya, yang diakui tak masuk akal, kelanjutannya terwujud, atau setidaknya mendekati kenyataan. Ilmuwan pendiam dan pemalu yang hampir terlupakan, mendunia sebagai penemu teori “partikel Tuhan”.

Higgs boson diakui bertanggung jawab menambahkan massa pada setiap materi. Ia adalah kunci membuka misteri alam semesta: bagaimana materi menyatu untuk membentuk galaksi, bintang, planet. Juga manusia.

Meski secara teoritis terbukti, namun mewujudkan Higgs boson sungguh pelik. Tak seluruh ilmuwan percaya. Termasuk ilmuwan terkenal dan kontroversial, Stephen Hawking. Penemuan Higgs boson membuatnya kalah taruhan. Konsekuensinya, ia perlu menyerahkan US$100 kepada fisikawan University of Michigan Godon Kane, sang pemenang.
Memang, sejak lama Higgs dan Hawking berdebat soal ini. Kalah dan tidak benar pun, Hawking selalu jantan. Ia mengaku bangga atas penemuan itu. “Ini adalah penemuan amat penting, Peter Higgs perlu mendapat Nobel,” kata dia.

Tak perihal Tuhan

Penemuan Higgs boson itu menuai pujian. Bahkan tersedia yang bilang, ia setara prestasi manusia menginjakkan kaki di Bulan, atau saat Christopher Columbus menemukan Amerika. Tapi, bagi awam, tersedia tanda bertanya besar. Apa sebenarnya Higgs boson? Mengapa ia disebut “partikel Tuhan”?

Soal ini, Peter Higgs menjelaskan, Higgs boson mirip sekali tak tersedia hubungannya dengan Tuhan. Apalagi – seperti tuduhan sejumlah orang – mengupayakan menegasikan keberadaan-Nya sebagai pencipta alam semesta.
“Istilah itu termasuk mirip sekali tak tersedia hubungannya denganku. Hanya semacam plesetan,” kata dia di dalam konferensi pers di University of Edinburg, Jumat 6 Juli 2012, seperti dimuat Xinhua.
Ada kisah unik di balik istilah yang mengelitik itu. Istilah “partikel Tuhan” dikenal sejak 1993, berasal dari buku yang berjudul “The God Particle: If the Universe is the Answer, What is the Question?” karya penerima Nobel bidang Fisika, Leon M. Lederman.

Higgs menceritakan, awalannya sang penulis berikan nama partikel itu “Goddamn particle” alias “partikel terkutuk”, saking sulitnya untuk ditemukan. Namun, editor tak berkenan, dan mengubahnya jadi “God particle” alias “partikel Tuhan”. “Istilah itu tidak digunakan para fisikawan, namun menarik bagi umum,” kata Higgs.

Tapi sebab istilah itu, proyek pencarian partikel yang makan dana besar mendapat perhatian dunia. Istilah “partikel Tuhan” terdengar lebih seksi, dan menggelitik berasal dari pada “Higgs boson”.
Meski atheis, Higgs mengaku tak bahagia dengan istilah “partikel Tuhan”. Sebab, “bisa menyinggung perasaan orang beragama.”

Seperti dimuat web CSN, astronom Vatikan, bruder Guy Consolmagno menyongsong baik penemuan Higgs boson untuk menguak rahasia alam semesta. “Ini mengindikasikan, bahwa tersedia realitas lebih dalam, lebih kaya, lebih aneh, berasal dari kehidupan kita sehari-hari”, kata dia. Meski, ia mengakui, partikel subatomik ini tak tersedia kaitannya dengan teologi atau pewahyuan.

Rahasia penciptaan
Higgs boson adalah keping terakhir berasal dari puzzle untuk melengkapi Model Standar Partikel Elementer, tidak benar satu teori yang paling berhasil untuk mengatakan bagaimana partikel dasar berinteraksi dengan gaya-gaya fundamental. Sekaligus jelas asal usul alam semesta, bagaimana ia berkembang, dan bagaimana manusia tersedia hingga saat ini.

Untuk jelas Model Standar, kita perlu jelas fisika didasarkan pada konsep empat type di alam: elektromagnetik, type kuat, type lemah, dan gravitasi.

Apa saja partikel itu? Model Standar menyatakan, materi terdiri berasal dari partikel kecil yang disebut fermion. Fermion terdiri berasal dari quark dan lepton. Ada termasuk boson, yaitu partikel perantara interaksi antar materi. Tiap boson membawa type sendiri –gluon membawa type kuat, foton membawa type elektromagnet W, Z boson membawa type lemah, dan graviton membawa type gravitasi. Partikel terakhir, yaitu Higgs boson yang berperan memilih massa. Kecuali Higgs boson, seluruh partikel di dalam Model Standar telah ditemukan

Bersandar pada hukum distribusi statistik kuantum Bose-Einstein, hasil kolaborasi fisikawan India, Satyendra Bose dan Albert Einstein, Peter Higgs pada 1960-an mencetuskan teori yang menuntut ada partikel subatom berasal dari suatu medan (field) yang menambahkan massa ke partikel dasar – yang kelak disebut Higgs boson.

Begini cara kerjanya: partikel tak bermassa seperti foton sebenarnya tidak berinteraksi dengan medan Higgs, namun partikel lain semacam elektron dan quark berinteraksi dengan medan itu membuahkan massa cocok cii-ciri interaksinya. Semakin besar interaksi partikel, makin lama besar massanya.

Dari mana terlihat nama Higgs boson? Medan Higgs ini terdiri berasal dari kuanta partikel berjenis boson – itu sebabnya dinamai Higgs boson, yang memiliki ciri, massanya diprediksi berada diatas 100 Giga eV atau lebih berasal dari 100 kali massa proton.

Lucunya, saat mengirimkan makalah memuat hipotesanya ke jurnal Physics Letters tahun 1964 silam, Higgs mirip sekali tak menyebut soal partikel itu. Akibatnya, para editor jurnal yang notabene fisikawan ternama menolaknya.

Kemudian Peter Higgs menambahkan paragraf kecil perihal partikel yang dimaksud, sebab terlanjur sakit hati, ia mengirimkan revisi makalahnya itu ke jurnal saingan, Physical Review Letters, yang menerimanya bahagia hati. Sebagai fisikawan pertama yang menyebutnya, partikel itu menyandang namanya.

Lalu apa hubungannya dengan pembentukan alam semesta?

Pada 13,7 miliar tahun lalu, sesaat sehabis dentuman terjadi (Big Bang), semesta yang panas terisi oleh hamparan partikel. Tanpa kehadiran Higgs boson, maka quarks tidak dapat terkombinasi membentuk proton atau neutron. Kemudian, proton dan neutron pun tak dapat terkombinasi dengan elektron membentuk atom. Tanpa atom, maka molekul dan materi pun tidak dapat terbentuk. Atau dengan kata lain: tak tersedia galaksi, tak tersedia bintang, tak tersedia planet, tak tersedia kehidupan di muka Bumi.

Michael Tuts, Profesor Fisika berasal dari Columbia University yang terlibat di dalam penelitian tim ATLAS mengatakan, masih perlu sejumlah pembuktian untuk menunjukkan bahwa itu adalah Higgs boson. Kendati demikian, partikel berat itu dinyatakan memiliki karakteristik “partikel Tuhan”.

Katakanlah Higgs boson telah ditemukan, lantas apa?

“Ini pertanyaan serius yang layak mendapat jawaban serius,” kata dia seperti dimuat Huffington Post. Salah satu penjelasan, Tuts menambahkan, bahwa Higgs boson melengkapi jenis standar partikel elementer. Ia dapat menopang menjawab rahasia besar penciptaan, termasuk berasal dari mana manusia berasal.

Ini, bagi sebagian awam, kemungkinan dapat dilihat sebagai penelitian “kurang kerjaan”. Apa pentingnya penelitian kuras jutaan dolar di tengah Eropa yang lagi sulit itu?

Tuts berpendapat penelitan itu amat penting. “Jika Anda bertanya apakah penemuan partikel ini dapat mengakibatkan hidup manusia lebih baik di dalam saat cepat, taruhlah besok atau 10 tahun mendatang, jawabannya kemungkinan besar tidak,” kata dia. “Tapi bagaimana dengan 20, 50, atau 100 tahun lagi? Untuk saat itu, aku amat percaya bahwa berdasarkan bukti sejarah, jawabannya ya.”

Sejarah, dia menambahkan, mengajarkan bahwa riset fundamental adalah batu pijakan mutlak bagi masa datang. Di awal 1900-an, tak banyak orang memiliki uraian bagaimana mekanika kuantum jadi landasan bagi teknologi saat ini. Atau bagaimana teori relativitas Einstein jadi amat penting, sekiranya di dalam sistem GPS.

Penjelasan lebih sederhana adalah listrik. Tak tersedia yang menyangka, percobaan dengan cara menggosokkan benda tertentu, untuk membuahkan type magnet dan listrik misterius pada tahun 1600 hingga 1700-an jadi dasar bagi sebuah kekuatan luar biasa, yang kini bisa mengakibatkan manusia sibuk tanpanya.

“Justin Bieber”
Teori Higg boson ini sebenarnya njelimet. Para ilmuwan termasuk mengupayakan menjelaskannya sesederhana mungkin. Memakai analogi, berasal dari Margaret Thatcher, kolam renang, termasuk jerapah.

Martin Archer, fisikawan berasal dari Imperial College, London, memiliki cara unik mengatakan cara kerja Higgs boson, dia memakai analogi Justin Bieber. Begini: tersedia sebuah ruangan penuh manusia, kala seseorang tak dikenal memasuki ruangan itu, ia bisa melalui dengan mudah. Lain halnya jikalau yang melalui itu adalah Justin Bieber, sang superstar. Pastinya, ia langsung dikerumuni orang-orang, lebih-lebih para gadis muda.

Akibatnya, Bieber dapat sulit bergerak , para gadis pemujanya itu memperlambat jalannya. Makin dia lambat bergerak, penggemarnya itu dapat makin lama mengupayakan mendekat. “Kami pikir kita telah menemukan gadis-gadis remaja itu,” kata Archer kepada CNN.

Nobel, buat siapa?
Penemuan jejak Higgs Boson adalah kabar baik yang lama ditunggu bagi para fisikawan. Tapi bagi Komite Nobel, itu mengakibatkan sakit kepala berat.

Sebab, penemuan — atau taruhlah, hampir ditemukannya Higgs boson adalah prestasi besar yang layak penghargaan Nobel. Masalahnya, siapa yang berhak menerimanya.

Umumnya, Nobel kategori sains umumnya diberikan pada maksimal tiga orang yang paling berkontribusi penting. Sementara, partikel baru ini hasil bisnis ribuan orang di CERN. Belum lagi tersedia enam fisikawan berjasa membangun teorinya; Robert Brout dan François Englert berasal dari Free University of Brussels. Brout meninggal pada 1964, itu bermakna haknya mendapat Nobel gugur.

Kemudian, Peter Higgs, yang di dalam makalah keduanya menyebut eksplisit pentingnya sebuah partikel baru, diberi nama Higgs boson pada 1972.

Ada termasuk group yang terdiri berasal dari dua peneliti AS, Dick Hagen dan Gerry Guralnik, dan ilmuwan Inggris, Tom Kibble. Jadi tersedia lima fisikawan ternama masih hidup yang bisa mengklaim Nobel. Jika benar, partikel ditemukan CERN adalah Higgs boson, pasti saja Peter Higgs paling berhak terima Nobel. Tapi, bagaimana dengan empat lainnya?

Higgs sendiri dengan rendah hati mengatakan ia bukan cuma satu yang berjasa. Ada ribuan ilmuwan berasal dari banyak negara bekerja keras, di tengah spekulasi dan ketidakpastian. “Dari China, Jepang, India. Ada banyak negara.”

Perdebatan tak hingga di situ. India mengingatkan pada dunia, bahwa Higgs boson termasuk menyandang nama seorang ilmuwan lain. Sehari sehabis pengumuman CERN, biro pers negara itu mengeluarkan rilis berjudul “Satyendranath Bose: Higgs-Boson’s Forgotten Hero” atau “Satyendranath Bose: pahlawan Higgs boson yang terlupakan”.

Bose adalah fisikawan India masa kolonial, yang bekerja dengan Albert Einstein, untuk jelas perilaku partikel subatomik yang lantas dijuluki boson.

Tak hanya India, Pakistan termasuk mulai diabaikan. Sebuah artikel dipublikasikan Express Tribune mengungkapkan peran fisikawan Abdus Salam, bekerja mirip dengan dua ilmuwan Amerika Serikat — Steven Weinberg dan Sheldon Glashow. Mereka mengembangkan teori elektrolemah yang mengumpulkan dua berasal dari empat type fundamental. Pekerjaan mereka menopang merampungkan Model Standar, dimana Higgs boson adalah anggota akhir untuk diteliti. Atas kerja kerasnya, trio itu memenangkan Nobel Bidang Fisika 1979.

Tapi, sejumlah ilmuwan mengatakan peran keduanya di dalam penemuan Higgs boson lemah. “Bose adalah fisikawan besar, yang sayangnya tak sempat mendapat Nobel,” kata Frank Close berasal dari University of Oxford seperti dimuat web sains Newscientist. Namun, ia menambahkan, karya Bose secara tidak langsung mendasari penemuan yang diumumkan pekan lalu. Sementara, Salam, “tidak pernah mengklaim Higgs boson.”

Close menambahkan, di luar Peter Higgs yang berhak mendapat pengakuan adalah Tom Kibble. Dia kolega Higgs, yang bekerja mirip di tahun 1964, dan berjasa berikan uraian perihal partikel subatomik. “Kebetulan, dia lahir di India.”

Memang, bagi para fisikawan, Salam dan Bose adalah ‘raksasa’. “Ini adalah bukti, pengetahuan melampaui perbedaan yang sejatinya tak bermakna seperti ras, kebangsaan, dan agama,” ujar Jim Al-Khalili, fisikawan berasal dari University of Surrey, Inggris. Partikel baru dikira Higgs boson lahir berasal dari ribuan tangan berasal dari bermacam latar belakang, dan agama. Termasuk oleh Peter Higgs, seorang atheis.

Sumber : https://tokoh.co.id/

Baca Juga :

Biografi Fidel Alejandro Castro Ruz (Fidel Castro)

Biografi Pythagoras

In P.Umum

Author:m7xap