Home Pendidikan • Pandangan Akademisi Tentang Erupsi Gunung Tangkuban Perahu

Pandangan Akademisi Tentang Erupsi Gunung Tangkuban Perahu

 - 
Pandangan Akademisi Tentang Erupsi Gunung Tangkuban Perahu
Pandangan Akademisi Tentang Erupsi Gunung Tangkuban Perahu

Pandangan Akademisi Tentang Erupsi Gunung Tangkuban Perahu

Pandangan Akademisi Tentang Erupsi Gunung Tangkuban Perahu

Pandangan Akademisi Tentang Erupsi Gunung Tangkuban Perahu

Akhir-akhir ini masyarakat Jawa Barat digemparkan dengan erupsi Gunung Tangkuban Perahu. Berbagai isu pun beredar tentang penyebab gunung yang menjadi objek wisata ini erupsi.

Volkanolog Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurrahman menjelaskan, erupsi tersebut disebabkan uap akibat air yang berinteraksi dan terpanaskan oleh magma. Menurutnya, Gunung Tangkuban Perahu memiliki siklus letusan 10 tahunan. Berdasarkan data dan penelitian yang pernah dilakukan, gunung tersebut pernah meletus pada 1951, 1961, dan 1971. “Namun terdapat perubahan setelah 1971. Harusnya pada 1981, tapi jadi meletus pada 1983. Bergeser 12 tahun, namun setelah itu bergeser kembali jadi hampir 10 tahunan lagi, yakni pada 1994 dan 2004,” jelasnya.

Hingga, lanjutnya, Gunung Tangkuban Perahu kembali mengalami erupsi pada Jumat (2/8/2019) pagi. Menurut laporan PVMBG, erupsi freatik juga terjadi pada 26 Juli 2019 sore. Bahkan, saat ini level status gunung tersebut dinaikkan dari level I (normal) menjadi level II (waspada), terhitung sejak 2 Agustus 2019 pukul 08.00 WIB.

“Gunung Tangkuban Perahu termasuk gunung tipe A, artinya masih aktif

.  Di Jawa sendiri terdapat 35 gunung api, 19 di antaranya tipe A,” ujarnya.

Dijelaskan Mirzam, seharusnya Gunung Tangkuban Perahu terakhir meletus pada 2004. Jika mengacu pola volume dan interval waktunya maka seharusnya meletus pada 2014. Namun, ternyata pada 2013 terdapat erupsi kecil sehingga tahun 2014 tidak terjadi apa-apa. Setelah itu, terjadi erupsi kecil lagi pada 2015, 2016, 2017, 2018, dan terakhir 2019.

“Walaupun begitu, saya khawatir karena belum ada letusan lagi sejak terakhir 2004.

Sehingga, meskipun freatik tetap perlu diwaspadai. Tetapi, sejauh ini freatik tidak apa-apa, terjadi sesaat dan akan berhenti,” tutur dosen Kelompok Keahlian Petrologi, Vulkanologi, dan Geokimia Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB ini.

Letusan freatik yang terjadi beberapa waktu lalu, tambahnya, tidak berbahaya karena jarak vertikalnya pun hanya 200 meter. Ini disebabkan musim kering sehingga volume air yang terpanaskan sedikit. Namun, jika dalam jumlah besar, erupsi freatik tetap berbahaya.

“Yang saya lakukan adalah prediksi jangka panjang. Caranya dengan mengetahui berapa interval

waktu rata-ratanya. Jadi, kalau sekarang batuk-batuk tapi memang belum waktunya, ya itu relatif aman. Tapi kalau harusnya dari 2014 belum meletus sampai 2019 maka harus hati-hati sekali,” jelasnya.

Namun, lanjut Mirzam, masyarakat tidak perlu khawatir berlebih dan hendaknya mengikuti anjuran Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Selain itu, harus melakukan self mitigation, yakni mengetahui tanda-tanda awal atau perubahan yang terjadi pada gunung api.

Mirzam menegaskan, selepas kejadian erupsi freatik, banyak yang mengaitkan dengan kondisi sesar atau patahan Lembang. Namun, belum pernah ada dalam sejarah gunung api bisa membangkitkan gempa tektonik dari patahan atau sesar.

Ia menjelaskan, gempa adalah pelepasan energi yang tiba-tiba, jenisnya ada empat. Yaitu, gempa tektonik karena pergerakan lempeng/patahan, gempa terban dari runtuhan gua dan lain-lain yang skalanya lokal, ketiga gempa karena tumbukan meteorit yang memiliki skala global, dan keempat gempa vulkanik karena bergeraknya magma ke permukaan.

“Gunung api itu menimbulkan gempa vulkanik, tapi tidak pernah ada dalam sejarah gempa vulkanik mengaktifkan sesar atau lempeng tektonik,” tegasnya.***

 

Baca Juga :

Author:m7xap