Home Pendidikan • Profesionalisasi Kepala Sekolah

Profesionalisasi Kepala Sekolah

 - 

Profesionalisasi Kepala Sekolah

Idealnya menjadi Kepala Sekolah Profesional harus memahami secara komprehensif bagaimana kinerja dan kemampuan manajerialnya dalam memimpin sebuah sekolah sehingga sekolah itu bernuansa sekolah yang berbudaya. Kualitas SDM sangat dipengaruhi oleh pendidikan. Dengan demikian bidang pendidikan merupakan bidang yang menjadi tulang punggung pelaksanaan pembangunan nasional. Tujuan pendidikan, khususnya di Indonesia merupakan membentuk manusia seutuhnya yang Pancasilais (UU Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003), dimotori oleh pengembangan afeksi. Tujuan khusus ini hanya bias ditangani dengan ilmu pendidikan bercorak Indonesia sesuai dengan kondisi Indonesia dan dengan penyelenggaraan pendidikan yang memakai konsep sistem.

Tugas dan tanggung jawab
Menurut Sergiovanni (1991), mengasingkan tugas kepala sekolah menjadi dua, yaitu tugas dari sisi administrative process atau proses administrasi, dan tugas dari sisi task areas bidang garapan pendidikan. Tugas merencanakan, mengorganisir, meng-koordinir, menggarap komunikasi, mempengaruhi, dan menyelenggarakan penilaian merupakankomponen-komponen tugas proses.

Program sekolah, siswa, personel, dana, fasilitas fisik, dan hubungan dengan masyarakat merupakankomponen bidang garapan kepala sekolah dasar. Di sisi lain, sesuai dengan konsep dasar pengelolaan sekolah, Kimbrough & Burkett (1990) mengucapkan enam bidang tugas kepala sekolah dasar, yaitu mengelola pengajaran dan kurikulum, mengelola siswa, mengelola personalia, mengelola fasilitas dan lingkungan sekolah, mengelola hubungan sekolah dan masyarakat, serta organisasi dan struktur sekolah.

Berdasarkan landasan teori tersebut, dapat digarisbawahi bahwa tugas-tugas kepala sekolah dasar dapat diklasifikasi menjadi dua, yaitu tugas-tugas di bidang administrasi dan tugas-tugas di bidang supervisi.

Tugas di bidang administrasi merupakan tugas-tugas kepala sekolah yang berkaitan dengan pengelolaan bidang garapan pendidikan di sekolah, yang merangkum pengelolaan pengajaran, kesiswaan, kepegawaian, keuangan, sarana-prasarana, dan hubungan sekolah masyarakat. Dari keenam bidang tersebut, bisa diklasifikasi menjadi dua, yaitu mengelola komponen organisasi sekolah yang berupa manusia, dan komponen organisasi sekolah yang berupa benda.

Tugas di bidang supervisi merupakan tugas-tugas kepala sekolah yang berkaitan dengan pembinaan guru untuk perbaikan pengajaran. Supervisi merupakansuatu usaha menyerahkan pertolongan untuk guru untuk memperbaiki atau meningkatkan proses dan situasi belajar mengajar. Sasaran akhir dari kegiatan supervisi merupakan meningkatkan hasil belajar siswa.

Sebagai seorang pejabat formal, kepala sekolah mempunyai tanggung jawab terhadap atasan, sesama rekan kepala sekolah atau lingkungan bersangkutan, dan guna bawahan. Dalam hal ini Wahjosumidjo mengaku dalam bukunya yang berjudul “Kepemimpinan Kepala Sekolah” sebagai berikut: kepala sekolah sebagai pemimpin suatu lembaga edukasi mempunyai tanggung jawab guna 3 pihak yaitu :

1. Kepada atasan Seorang kepala sekolah mempunyai atasan yaitu atasan langsung dan atasan yang lebih tinggi. Karena kedudukannya yang terbelenggu untuk atasan atau sebagai bawahan, maka seorang kepala sekolah mempunyai tugas dan tanggung jawab berikut ini :

  • Wajib loyal dan melaksanakan apa yang digariskan oleh atasan;
  • Wajib berkonsultasi atau memberikan laporan mengenai pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung jawabnya;
  • Wajib tidak jarang kali merawat hubungan yang memiliki sifat hirarki antara kepala
    sekolah dan atasan.

2. Kepada sesama rekan kepala sekolah atau instansi bersangkutan untuk menjaga hubungan dan menjalin kerja sama yang baik untuk meningkatkan kualiats pendidikan lembaga yang dipimpinnya maka kepala sekolah mempunyai tugas dan tanggung jawab antara lain :

  • Wajib mengasuh hubungan kerja sama yang baik dengan seluruh kepala sekolah yang lain;
  • Wajib mengasuh hubungan kerja sama yang sebaik-baiknya dengan lingkungan baik dengan instansi bersangkutan maupun tokoh-tokoh masyarakat dan BP3.

3. Kepada bawahan Kepala sekolah berkewajiban menciptakan hubungan yang sebaik-baiknya dengan seluruh guru, staf, dan siswa. Sebab esensi kepemimpinan merupakan kepengikutan atau orang yang mempunyai loyalitas untuk mempengaruhi bawahannya.Selain itu kepala sekolah harus mengembangkan sumber daya seluruh guru dan staf dengan membuat program-program peningkatan kualitas seluruh guru dan staf sehinga bisa menjadi guru dan staf yang professional. Penyediaan sarana dan prasarana yang mencukupi pun mesti dilakukan kepala sekolah untuk menunjang kreatifitas anak didik. Pada umumnya kepala sekolah menggunakan gaya gabungan antara pembagian tugas dan hubungan manusiawi. Pembagian tugas merupakanstrategi kepala sekolah yang lenih mengutamakan setiap tugas dapat dilaksanakan dengan baik oleh masing-masing elemen yang terlibat dalam lembaga yang dipimpinnya. Sedangkan gaya hubungan manusiawi lebih mengutamakan pemeliharaan manusiawi dengan masing-masing tenaga pendidikan.

Untuk itu kepala sekolah harus mengetahui tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Adapaun tugas-tugas dari kepala sekolah seperti yang dikemukakan Wahjosumidjo sebagai berikut:

Kepala sekolah bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan (responsible and accountable). Keberhasilan dan kegagalan pihak bawahan merupakan suatu pencerminan langsung keberhasilan atau kegagalan seorang pemimpin.

Dengan demikian kepala sekolah bertanggungjawab atas segala tindakan yang dilakukan oleh seluruh guru, siswa, staf dan wali murid tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab kepala sekolah.

Dengan waktu dan sumber yang terbatas seorang kepala sekolah harus bisa menghadapi persoalan (managers balance competing goals and set priorities). Dengan segala keterbatasan, seorang kepala sekolah harus dapat mengatur pemberian tugas secara tepat. Bahkan ada kalanya seorang kepala sekolah harus dapat menilai prioritas bilamana terjadi konflik antara kepentingan bawahan dengan kepentingan sekolah.

Kepala sekolah harus berpikir secara analitik dan konsepsional (must think analytically and konceptionally). Konsep ini berarti menuntut setiap kepala sekolah harus dapat memecahkan persoalan melalui suatu analisis kemudian menyelesaikan persoalan dengan satu solusi yang feasible. Demikian pula dengan kepala sekolah harus bisa melihat setiap tugas sebagai satu keseluruhan yang saling berkaitan. Memandang persoalan yang timbul sebagai bagian yang tak terpisahkan dan satu keseluruhan.

Kepala sekolah sebagai politisi (politicians) Sebagai seorang politisi berarti kepala sekolah harus selalu berusaha untuk meningkatkan tujuan organisasi serta mengembangkan progam jauh ke depan. Untuk itu sebagai seorang politisi kepala sekolah harus dapat membina hubungan kerja sama melalui pendekatan persuasi atau kesepakatan (compromise). Peran keterampilan politis seorang kepala sekolah dapat berkembang secara efektif apabila:

a. Dapat dikembangkan prinsip jaringan saling pengertian terhadap kewajiban masing-masing.
b. Terbetuknya aliasi atau koalisi, seperti organisasi profesi, OSIS, BP3.
c. Terciptanya kerja sama (cooperation) dengan sekian tidak sedikit pihak sehingga aneka macam pekerjaan dapat dilaksanakan.

Kepala sekolah berfungsi sebagai pengambil keputusan yang sulit (make difficult decisius). Tidak ada satu organisasi pun yang dilangsungkan mulus tanpa problem. Demikian pula sekolah sebagai suatu organisasi tidak luput dari persoalan: tantangan dana, persoalan pegawai, perbedaan pendapat terhadap kecerdikan yang telah ditetapkan oleh kepala sekolah dan masih tidak tidak banyak lagi. Apabila terjadi kesulitan-kesulitan seperti tersebut di atas, kepala sekolah diharapkan berperan sebagai orang yang menyelesaikan persoalan yang sulit tersebut.

Sumberhttps://www.emailmeform.com/builder/form/n4imJd1V4jkadubM0l

Author:m7xap